(Traveling) Kyoto – Ginkakuji – Issen Yoshoku

Hari ke-3 ini kami mengunjungi salah satu kuil tujuan utama wisatawan Kyoto. Namanya Ginkakuji, Paviliun Perak.

Mengapa dinamakan demikian?

Ginkakuji adalah sebuah kuil Zen yang berada di sebelah timur Kyoto -daerah Higashiyama-. Shogun Ashikaga (1435-1490) mendirikan paviliun peristirahatan untuk masa pensiunnya di daerah ini pada tahun 1482. Paviliun tersebut terinspirasi oleh Kinkakuji (Paviliun Emas, di daerah Kitayama) yang dibangun oleh kakeknya sendiri. Namun sepeninggal Yoshimasa pada tahun 1490, paviliun itupun kemudian diubah menjadi sebuah kuil Zen.

Sama halnya dengan Kinkakuji yang berada di daerah utara Kyoto, Ginkakuji di timur juga menjadi pusat kebudayaan pada saat itu. Bedanya adalah kalau di Kinkakuji budayanya lebih terbatas untuk kalangan elit, aristrokat/pejabat. Sementara itu budaya Ginkakuji justru lebih membumi dan mempunyai peran yang luas pada budaya Jepang sendiri kala itu. Keseian yang ada saat itu makin berkembang mulai dari arsitektur, puisi, teater hingga upacara minum teh.

Walaupun dikenal orang dengan nama Ginkakuji, nama kuilnya sendiri aslinya adalah Jisho-in (kemudian diubah menjadi Jisho-ji). Berbeda dengan Kinkakuji yang memang bernuansa emas, kamu bisa dibilang ga akan menemukan sesuatu berwarna perak yang cukup signifikan biar nyambung dengan julukan Vila Perak Ginkakuji :) Shogun Ashikaga dulu sepertinya memang berniat melapisi paviliun ini dengan warna perak, namun sayang keinginan tersebut sepertinya tidak pernah terlaksana.

Ginkakuji, The Silver Pavillion... eh mana warna peraknya?

Ginkakuji, The Silver Pavillion… eh mana warna peraknya?

 

Hamparan pasir putih di depan Rara pada foto di bawah ini adalah tipikal Zen Garden yang tertata indah dengan pola pasir yang rapi. Taman pasir ini disebut sebagai “Sea of Silver Sand“, lautan pasir putih.

kyoto_20140310091025_3058_x100s

Rara, still excited playing with the snow

Nah sedangkan tonggak di bawah ini (bentuknya mirip tumpeng/cone dengan ujung atas dipotong :P) disebut sebagai Moon Viewing Platform, tempat memandang bulan.

kyoto_20140310090807_3049_x100s

Moon Viewing Platform

Nah kalau kalian berkesempatan berkunjung ke sini di cuaca yang tepat, maka cukup dengan berjalan kaki kamu dapat menikmati berbagai situs sejarah dan pemandangan yang spektakuler.

Di mulai dari bagian paling atas dimana Kuil Ginkakuji terletak, kamu bisa menyusuri Shirakawa Sosui Dori. Sekedar window shoping atau sekedar mencari camilan/makan siang. Setelah itu dilanjutkan berjalan kaki menyusuri Philosopher’s Path atau kadang disebut juga sebagai Philosopher’s Walk.

Philosopher’s Path atau Tetsugaku-no-michi adalah sebuah jalanan kecil yang membentang menyusuri sungai dari Ginkakuji turun hingga ke Kuil Nanzen-ji yang kompleksnya guede banget serta Eikan-do Zenrin-ji yang lebih kecil. Tapi jangan salah, pemandangan sepanjang pinggir sungai ini emang indah. Apalagi kalo pas musim sakura mekar atau menjelang musim gugur nanti. Di sepanjang jalur ini banyak vending machine, toko/kafe kecil dan juga kuil-kuil kecil.

Wahhh, jadi pingin ke Kyoto lagi.

Saya sudah menyinggung soal “cuaca yang tepat” kan sebelumnya? Saya bilang begitu karena seharian ini kami bisa dibilang kenyang makan salju. Begitu tiba di Ginkakuji disambut hujan salju yang cukup deras, untungnya tidak lama. Yah stop-and-go sih saljunya. Alhamdulillah selama jalan kaki menyusuri Philosopher’s Path cerah sekali. Tapi begitu di Eikan-do cuaca mulai meredup. Kami tidak bisa berlama-lama di sana dan memutuskan untuk segera pergi begitu langit makin gelap dan salju mulai turun lagi.

Kali ini ga sekedar showering tapi bonus angin. Jadilah kami sedikit merasakan badai salju level 1 di Jepang. Payung (cuman 1, dituker orang pula) dah beralih fungsi jadi perisai. Setelah lumayan lama mencari rute ke jalan raya (sambil berusaha menjaga agar iPad tidak basah) + menggigil kedinginan akhirnya kami menemukan halte bus.

Niat sebelumnya ingin mengunjungi Kiyomizu-dera serta klayapan di Higashiyama. Tapi kami memutuskan untuk sementara cukup sudah bermain salju hari itu. Jadi rute selanjutnya maen ke ‘kota’ saja. Haripun beranjak gelap saat kami turun di Gion.

Waaa, wajah lain Kyoto saat menyusuri Shijo-Kawaramachi. Di ujung Shijo ada bangunan kuno mentereng, Yasaka Shrine dan kompleks kuil yang sangat besar. Saya tau di sana ada Kodai-ji, Kuil Chorakuji tapi entah apa lagi di dalamnya. Sementara itu sepenjang mata memandang dari gerbang Yasaka ke depan yang ada adalah deretan toko serta mal.

Kontras sekali. Tapi hal ini menunjukkan kalo di Kyoto itu “past and present can get along side-by-side in harmony.

Langsung deh semangat mau blusukan masuk-masuk dan menyusuri lorong-lorong Gion. Hehehehehe, jadi terbayang Kyoto jaman dulu hasil visualisasi buku-buku Eiji Yoshikawa. Tapi karena Rara sudah ga kuat jalan plus baru berasa kalo kita kelaparan *gara-gara lewat depan tukang takoyaki yang enak banget aromanya- petualangan hari itu kita akhiri dengan berburu makanan khas Kyoto saja.

Dan menurut tripadvisory serta Lonely Planet si Rara, rekomendasi tempat makan yang dekat dengan posisi kita saat itu adalah warung Okonomiyaki Isshen Yoshoku. Warung ini cuma menjual 1 menu saja. Seporsi harganya kalau ga salah JPY 650.

Okonomi means “what you like”  and yaki means “grilled” or “cooked”; So, Okonomiyaki means “cook what you like”. In our case it was cabbage, bits of fried batter, eggs and red pickled ginger are mixed with a wheat flour batter and pan fry on a hotplate. The result resembles something like pizza + okonomiyaki sauce and nori.

Rasanya? Totemo oishii desu…

When you’re in Kyoto, you-have-to-try-this-okonomiyaki! Issen Yoshoku is a local legend.

kansaitrip_20140310224839_00411_lgg2

oleh-oleh yang kami beli di Ginkakuji, warabi mochi. Something made with green tea :)

kyoto_20140310205035_3327_x100s

Yaa, they’re excited to get to know what is inside and how good the taste will be

kyoto_20140310205301_3329_x100s

and what the heck are you doing inside, Danbo?!!! You eat the cake already?!!

This entry was posted in General by nuri. Bookmark the permalink.

About nuri

Hi, i am Nuri. Just another IT guy working on fintech and telco at Jakarta, Indonesia. While tech stuff became my daily breakfast, i also love to travel around the globe and taking photos also. I DJ on my spare time (not professionally) while dealing with a mess my 9 cats made at home :)

1 thought on “(Traveling) Kyoto – Ginkakuji – Issen Yoshoku

Comments are closed.