Tim Cook Mundur Setelah 15 Tahun menjadi CEO — Apple Kini di Tangan Seorang Engineer

1 September 2026, selain diperingati sebagai Hari Polwan ke-78, hari ini juga akan ditandai sebagai salah satu hari penting di industri teknologi karena Tim Cook resmi mundur sebagai CEO Apple setelah 15 tahun menjabat posisi tersebut.

John Ternus, seorang engineer yang telah 25 tahun bersama Apple, akan meneruskan sebagai CEO Apple berikutnya. Tim Cook sendiri akan menjabat sebagai Executive Chairman.

Mari kita melihat kilas balik 15 tahun Apple di bawah kepemimpinan Tim Cook.

Waktu Tim Cook resmi jadi CEO pada Agustus 2011, Steve Jobs baru saja mengundurkan diri karena sakit. Dua bulan kemudian, Jobs meninggal. Cook memimpin Apple di tengah kepedihan — dan di bawah bayang-bayang raksasa yang baru saja pergi.

Waktu itu banyak yang skeptis. “Apple tanpa Jobs itu kayak Coca-Cola tanpa formula rahasianya,” kira-kira begitu sentimen yang beredar.

Tapi lihat apa yang terjadi:

  • Market cap Apple: $350 miliar ? $4 triliun (sempat menyentuh $5 triliun di Juli lalu — hanya perusahaan kedua di dunia yang mencapai itu)
  • Saham Apple: dari $13 ? $319 per lembar, naik 2.359%
  • Revenue tahunan: $108 miliar ? lebih dari $400 miliar
  • Segmen Services (App Store, Apple Music, Apple Pay, dll.): sekarang menghasilkan lebih dari $100 miliar per tahun

Cook tidak menciptakan produk ikonik seperti Steve Jobs menciptakan iPhone. Tapi Cook yang mengubah Apple dari perusahaan gadget menjadi ekosistem yang mengikat ratusan juta orang ke dalam satu dunia digital. Apple Watch, AirPods, Apple Pay, Apple TV+, Vision Pro — semua lahir di era Cook.

Siapa John Ternus?

Nama John Ternus sebelumnya mungkin tidak begitu dikenal di kalangan publik atau pengguna produk-produk Apple. Itu justru khas mereka — eksekutif seniornya jarang tampil di media, tapi di balik layar mereka yang memutuskan bentuk iPhone berikutnya.

Ternus, 51 tahun, adalah insinyur. Bukan MBA, bukan bos pemasaran, bukan wizard keuangan seperti Cook yang dulunya CFO. Dia mechanical engineer lulusan University of Pennsylvania yang bergabung dengan Apple pada 2001 — masih era Steve Jobs.

Produk pertama yang dia tangani? Apple Cinema Display. Bukan yang glamor, tapi dari sana dia naik pelan-pelan: mengawasi iPad, kemudian Mac dan AirPods, lalu iPhone, dan akhirnya seluruh hardware engineering Apple sejak 2021.

Sederhananya: hampir semua perangkat Apple yang kamu pegang hari ini pernah lewat meja Ternus.

Tim Cook sendiri bilang tentang penggantinya:

“John Ternus punya pikiran seorang engineer, jiwa seorang inovator, dan hati untuk memimpin dengan integritas dan kehormatan.”

Apa yang akan berubah?

Cook adalah master operasional. Dia yang membangun supply chain Apple menjadi salah satu yang paling efisien di dunia — dia yang memastikan jutaan iPhone bisa dikirim tepat waktu ke ratusan negara tanpa chaos.

Ternus adalah orang produk. Dia engineer yang hidup di dunia desain dan rekayasa perangkat.

Pergantian ini menandai pergeseran filosofi kepemimpinan Apple: dari “bagaimana kita menjalankan mesin ini seefisien mungkin” ke “produk apa yang akan kita buat selanjutnya.”

Dan itu masuk akal, karena Apple sekarang punya masalah yang sangat produk-sentris.

AI — Apple Sedang Tertinggal

Sementara Google, OpenAI, dan Anthropic berlomba menghadirkan AI yang makin canggih, Apple terasa lebih lambat. Apple Intelligence — fitur AI yang diperkenalkan tahun lalu — belum menghasilkan momen “wow” yang sama seperti ChatGPT atau Gemini.

Ternus harus menjawab pertanyaan yang sudah lama menghantui Apple: apakah ekosistem tertutup Apple bisa menjadi keunggulan di era AI, atau justru menjadi hambatan?

Antitrust — Pemerintah AS dan Eropa Mengawasi Ketat

Apple sedang menghadapi tekanan regulasi yang serius. Di Amerika Serikat, Departemen Kehakiman menggugat Apple atas dominasi App Store. Di Eropa, Digital Markets Act memaksa Apple membuka ekosistemnya ke aplikasi pihak ketiga.

Menariknya, Cook — yang sekarang jadi Executive Chairman — akan tetap menangani hubungan dengan pemerintah AS dan China. Ternus bisa fokus ke produk, Cook yang bermain politik.


Tanggal 9 September 2026, Ternus akan memimpin event Apple yang sudah ditunggu-tunggu — event “Surprise and Shine” yang diperkirakan akan mengumumkan:

  • Foldable iPhone Ultra — iPhone pertama dengan layar lipat dalam sejarah Apple
  • iPhone 18 Pro — generasi terbaru flagship Apple
  • Apple Watch baru

Analis menyebutnya sebagai “siklus produk paling ambisius Apple sepanjang sejarah”. Nah mari kita lihat, seperti apakah Apple ke depannya ditangan seorang engineer.

Referensi:

Jepang 9 – 0 Korea Selatan, Wakil Asia di EPL 2026/2027

Seiring dengan perginya Son Heung-min ke Amerika musim panas 2025 dan terdegradasinya Wolverhampton musim lalu di mana Hwang Hee-chan bermain di sana, praktis tidak ada satupun pemain dari Korea Selatan yang berlaga di Premier League paruh pertama musim kompetisi 2026-2027 ini.

Sebaliknya, di musim ini setidaknya malah ada 9 pemain Jepang hadir Liga Inggris, Nama-nama seperti Kaoru Mitoma, Wataru Endo, Takehiro Tomiyasu ataupun Daichi Kamada tentu sudah tidak asing. Mereka sudah exist di EPL sebelumnya. Mitoma sendiri adalah pemain Jepang pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Premier League.

Salah satu nama besar pemain Jepang yang baru berhabung ke Liga Inggris adalah Zion Suzuki. Penjaga gawang timnas Jepang yang tampil gemilang di Piala Dunia 2026 ini akhirnya bergabung dengan Aston Villa setelah drama transfer-nya ke PSG dari Parma batal.

Yang menarik, dari 3 tim promosi Liga Inggris musim ini masing-masing mempunyai 1 pemain Jepang di dalamnya.

Berikut adalah daftar pemain Jepang yang berlaga di paruh pertama Liga Inggris musim kompetisi 2026-2027.

NamaKlubPosisi
Kaoru MitomaBrighton & Hove Albion Winger
Wataru Endo LiverpoolMidfielder
Daichi KamadaCrystal PalaceMidfielder
Takehiro TomiyasuCrystal PalaceDefender
Tatsuhiro SakamotoCoventry City (promosi)Winger
Daizen MaedaIpswich Town (promosi)Winger
Hidemasa MoritaHull City (promosi)Midfielder
Ao TanakaEvertonMidfielder
Zion SuzukiAston VillaGoalkeeper

Jeremy Jacquet, Bek 60 Juta Poundsterling

Nomor punggung 5 Liverpool musim ini ditinggalkan Ibrahima Konate yang hijrah ke Real Madrid. Penggantinya, sama-sama orang Perancis, adalah bek berumur 21 tahun bernama Jérémy Jacquet. Didatangkan dari Rennes, Jacquet (bersama dengan Ronald Araújo) diharapkan bisa memperkuat lini belakang yang musim kemarin kedodoran.

But there is a catch: riwayat cedera bahu.

Jérémy Jacquet lahir pada 13 Juli 2005 di Bondy — kota pinggiran Paris yang juga merupakan tempat Kylian Mbappé dibesarkan. Bukan kebetulan bahwa dua generasi berbeda dari kota yang sama menemukan jalan menuju puncak sepakbola Eropa; ada sesuatu di kultur kompetitif Bondy yang membentuk karakter keduanya.

Continue reading

Víctor Muñoz, Hungry and Versatile

Setelah gagal mencari pengganti Luis Diaz kemudian ditambah lagi Mohamed Salah yang cabut di akhir musim 2025-2026, Liverpool sadar betul kalau mereka punya PR besar buat memperkuat lini sayap. Kalau tidak, The Reds bisa babak-belur seperti musim 2025/2026 lalu.

Didatangkan dari Osasuna senilai kurang lebih £34,5 juta, Víctor Muñoz adalah rekrutan pertama Liverpool musim ini yang diproyeksikan untuk mengisi peran yang ditinggalkan 2 legenda klub tersebut terutama untuk jangka panjangnya. Seorang winger muda 22 tahun, bagian dari timnas Spanyol yang menjuarai Piala Dunia 2026 lalu.

Víctor Muñoz Villanueva lahir pada 13 Juli 2003 di Barcelona. Seperti kebanyakan bocah berbakat di Catalonia, jalannya dimulai di La Masia — akademi keramat Barcelona yang melahirkan banyak bintang seperti Messi, Xavi, dan Iniesta. Dia bergabung saat usia 11 tahun dan menghabiskan tiga tahun di sana.

Continue reading

Ifeanyi Ndukwe, Perjalanan yang Masih Panjang

Image Source: https://liverpooloffside.sbnation.com/

Tur pra-musim Liverpool beberapa waktu lalu hasilnya menurut saya biasa-biasa saja. Namun ada satu pemain muda yang cukup menarik perhatian. Namanya Ifeanyi Ndukwe.

Ifeanyi Ndukwe adalah center back muda berasal dari Austria namun punya garis keturunan dari Nigeria. Seperti banyak pemain diaspora Afrika yang menemukan jalan mereka ke akademi Eropa, Ndukwe tumbuh dan berkembang jauh dari kampung halaman leluhurnya, akhirnya mendarat di FK Austria Wien, salah satu klub tertua dan paling bersejarah di Austria.

Continue reading

Era Baru Liverpool Berbasis AI Musim 2026/2027

Sepeninggal Jurgen Klopp, kami para Liverpudlian sempat menaruh asa pada diri Arne Slot Liverpool kembali menjadi kampiun Premier League 2024-2025 walo sebenarnya overall tampil kurang memuaskan. Di tahun kedua kepemimpinan Slot, performa tim berantakan. Kami gagal di semua kompetisi, jor-joran beli pemain mahal tapi malah tidak (atau mungkin belum) tepat guna untuk kebutuhan dan kondisi tim saat itu. Slot juga tidak bisa memberdayakan Mo Salah dengan tepat. Nampaknya memang tipikal pelatih-pelatih asal Belanda kalo di Liga Inggris ya?

Ingat Erik ten Hag? Bagaimana dia menyia-nyiakan Christiano Ronaldo, Sancho, McTominay, de Gea termasuk kecenderungan jor-joran buang duit beli pemain yang tidak tepat guna.

Warisan Skuad yang Mahal, tapi Belum Utuh

Musim panas lalu, Liverpool menghabiskan lebih dari £400 juta. Hasilnya? Alexander Isak dan Florian Wirtz datang dengan ekspektasi yang sangat tinggi, tapi keduanya belum benar-benar meledak. Bukan berarti mereka gagal total — tapi untuk angka sebesar itu, “cukup baik” bukan jawaban yang memuaskan Anfield.

Continue reading

Premier League 2026/27 Kick Off!!

Tidak terasa Agustus sudah memasuki minggu ke-3 dan English Premier League akan menjalani game week pertamanya besok (Waktu Indonesia Barat). Nah, apa nih yang tampaknya bakal menarik?

Arsenal, sang juara bertahan

Pertanyaan terbesar musim ini bukan “apakah Arsenal bisa kembali juara?” karena dalam sejarahnya The Gunners belum pernah back-to-back juara liga Inggris 2x berturut-turut. Tapi kita kesampingkan itu dulu, pertanyaan yang mau kita bahas adalah “dari mana ancaman terbesar datang?”

Arsenal membuka musim malam ini melawan Coventry City di Emirates — lawan yang secara teknis mudah, tapi secara psikologis penting. Tim juara yang memulai dengan kemenangan bersih di kandang menetapkan nada yang berbeda dari tim yang harus berjuang sejak pekan pertama. Mikel Arteta tahu betul pentingnya momentum awal.

Yang menarik adalah konteks di sekitar mereka. Tiga dari lima klub Big Six — Manchester City, Liverpool, dan Chelsea — masuk musim ini dengan manajer baru. Maresca menggantikan Pep Guardiola di City. Liverpool dan Chelsea juga berganti nahkoda. Ini bukan pergantian biasa: tiga proyek besar sedang dalam fase adaptasi secara bersamaan, dan fase adaptasi selalu penuh ketidakpastian.

Secara historis, musim pertama seorang manajer baru di klub besar Premier League jarang berakhir dengan gelar juara. Ferguson butuh tiga tahun di United. Klopp butuh dua tahun di Liverpool. Guardiola sendiri finis ketiga di musim pertamanya bersama City. Ini bukan hukum besi, tapi pola yang cukup konsisten untuk diperhatikan.

Artinya, Arsenal mungkin sedang dalam posisi yang lebih menguntungkan dari yang terlihat — bukan karena mereka lebih kuat dari musim lalu, tapi karena pesaing utama mereka sedang dalam proses menemukan identitas baru.

Continue reading