How To Install Java on Your New Java-less macOS

By mean “new” here is macOS Catalina & Big Sur. And I just finished (finally) fresh install my MacBook Pro with Big Sur 11.4. Bye Catalina.

As widely known, Oracle announced that the Oracle JDK 8 builds released after JAN 2019 will not be free for commercial use. Since OS X 10.7 Java is not (pre-)installed anymore. Well, I’m not a fan of Java myself (i stop using it after Java 1.6 i guess). But since I’m also tinkering with Android (and Kafka), I have no choice but put Java in my dev machines.

Instead using Oracle’s, I will use OpenJDK.

There are several ways to install OpenJDK to your Mac.

  1. Simply install the prebuilt OpenJDK binary.
  2. Install via homebrew
  3. Compile the source codes your self :P

Let’s use the easiest one. Option #1.

Adoptium is one of the best places to find prebuilt OpenJDK binaries. And as i write this article the lates LTS version is OpenJDK 11.0.12+7.
For you information, Adoptium previously was known as AdoptOpenJDK. The project’s goal was for providing the Java community with rock-solid runtimes and associated tools that can be used free of charge, without usage restrictions on a wide range of platforms. Later on, on June 2020 (cmiiw) AdoptOpenJDK moved to Eclipse Foundation and change the brand to Eclipse Adoptium Project.

  • Click on the OpenJDK installer as shown above. The installation window will appear and you just need to follow the instructions.
Installer’s welcome page
Software License Agreement
Finish installation
  • After finish, you need to verify the installation using command java -version
    It should be returning the information as shown below.
java version check
  • Almost done. Your Java base installation directory will be located in /Library/Java/JavaVirtualMachines/temurin-11.jdk/Contents/Home and that should be the value of your JAVA_HOME environment variable. Don’t forget to put it in your ~/.zshrc or ~/.bash_profile file depending on whatever shell you’re using.
JAVA_HOME variable

That’s it. Done.

How To Upgrade Your Huawei P9+ to EMUI 5 (Nougat)

This post is intended for Huawei P9/P9+ owners out there who wont give a shit anymore to Huawei for their incapability of delivering proper Android update for their own products. This method might also applicable for another Huawei smartphone series.

Big thanks for TeamMT for dedicating their time to make Hw Firmware Finder app and also people in xda-developer forum.

In order to complete this tutorial, what you need to prepare are:

  1. Patient, big one, we’re dealing with Huawei here. Therefore, your battery should be at least 80% ??
  2. Internet quota for your smartphone, big one also, we’re dealing with big size files download. Average size could be 2GB++. Fast WiFi connection will be more helpful ?
  3. Decision whether or not you will buy another Huawei phone in the future?

Continue reading

Selamat datang di iPhone & iPad, Mozilla Firefox

ffx-ios-fin2
Penantian panjang itu akhirnya berakhir. Mozilla akhirnya secara resmi merilis browser Firefox 1.2 untuk perangkat iOS yang meliputi iPhone, iPad serta iPod Touch secara global. Versi pertama dirilis sekitar bulan September 2015, tapi saat itu hanya untuk AppStore New Zealand saja. Yah, untuk test the market dulu lah.
ffx-ios-4324
Fitur-fitur Firefox iOS kurang lebih sama seperti yang di desktop. Mulai dari sinkronisasi dengan Firefoxnya untuk mengakses history, tab, password serta bookmarks, tab management hingga private browsing.

Continue reading

[#31DaysOfDecember] 29 – LG G2 (D802)

LG G2 (D802)

I have … well several phones. iPhone5, LG G2 and the bottom of the list is a Firefox OS Flame.

So far i think the best investment i’ve made was my iPhone5. It’s stable, never having issues, all the app i need are there in AppStore and the speaking about UX, well i prefer iOS over any kind of Android. I’m sold to iPhone.

These phones are extension to my photography activities. And when talking about that, my LG-G2 has done awesome jobs.

In daylight, the quality is head to head with the iPhone5 (both using stock camera app). In low light, LG G2 is the winner. LG produced better jpeg than iPhone5. And another strong point in hardware part is LG G2 camera has OIS, optical image stabilization.

OIS help you focus better specially in low light when you need longer shutter release. iPhone5 doesn’t have that, not until iPhone 6 plus released.

Here are some sample of photos I’ve made with LG G2 and its stock camera app. Resize only using Apple Preview.app.

lgg2_20141213_174809

some random people at DWP

lgg2_20141213_175008_Burst20

again, still in DWP. LG G2 in cloudy daylight. the focus locking also very good

lgg2_20141224_023906

inside apartment with Phillips 23W cool daylight lamp

lgg2_20141226_213938_1

“spot metering” to my X-T1 LCD :)

lgg2_20141229_210803

Table cloth in Negev. EXIF said it’s in f/2.4 as you can see the shallow DOF. I let the camera in auto focus mode

lgg2_20141212_203355

very low light in DWP day#1 spot metering and focusing

lgg2_20141212_194854

(1) low light image, (2) focusing in low light, awesome!

Screen Shot 2014-12-30 at 12.37.39 AM

EXIF

lgg2_20141229_210836

dim light at Negev couple hours ago, selected focus to that red sangria glass.

Most of my photos during my trip to Kyoto last March were actually taken with this LG G2. So i really recommended it to you who’s looking for a smartphone with very good camera and reasonable price.

Welcome Firefox v30

#CariMukaKatanya :D
Available for Mac, Windows and Android near you :)

10 Juni kemarin Mozilla mengumumkan versi terbaru Firefox v30.
Nah, apa saja yang ditawarkan oleh browser open-source berusia 10 tahun ini di versi terbarunya?

android-fx30-2

Firefox v30 for Android

Sebenarnya ga banyak sih update yang ditawarkan, dibandingkan versi 29 yang secara tampilan dah beda banget.

  • Terdapat tombol baru yang memudahkan kita untuk akses ke bookmark, social, dan history
  • GStreamer 1.0 yang akan memanjakan pengguna Linux untuk dapat mengakses video H.264 via browser seperti halnya AAC dan MP3
  • Plugin yang tidak ada di whitelist plugin Firefox atau bukan bagian dari extension browser ga akan aktif secara otomatis.
  • Buat para developer, background-blend-mode akan aktif by default dan waktu menampilkan error stack nomor kolomnya akan tampil juga.
  • Firefox 30 untuk Android menampilkan tombol Quickshare baru dan juga versi lokal baru (termasuk di dalamnya versi Indonesia, Malaysia, Latvia dan Belarusia). Loading pagenya juga mengalami perbaikan yang cukup bagus di jaringan 3G

Detil perubahan apa saja yang telah terjadi di versi ini dibandingkan sebelumnya bisa dibaca di sini. Info buat para developer terkait perubahan-perubahan di versi 30 bisa dibaca di sini.

Nah, versi berapa Firefox kalian saat ini? Ayo update ke versi 30 \^_^/

Dunia (Telco) Yang BerAPI

Tulisan ini menyambung tulisan sebelumnya yang berjudul Dunia Penuh API. Topik bahasannya adalah hubungan antara dunia Telco dengan API.

fb-status-20140402

Emang apa hubungannya antara Telco dan API?

Gini, sudah jadi fakta bahwa bisnis telco mulai tergerus dengan adanya layanan-layanan OOT…. eh?! Maaf, maksudnya OTT (Over-The-Top). Operator sekarang dipandang semakin menjadi sekedar pipa bego (dumb pipe) -nya para penyedia layanan OTT ini. Kompetisi di dunia telco terutama di mobile industri sudah berubah.

Telekomunikasi sekarang bukan lagi ngomongin ‘reliability and network scaling‘. Dulu mungkin operator berlomba-lomba menjaga kemampuan pengiriman SMSnya terutama saat lebaran hingga sekian puluhan (atau mungkin ratusan) ribu MDA/seconds. Menjaga supaya angka call drop bisa sekecil mungkin atau bahkan 0%, jangkauan sampai pelosok dan sebagainya.

Sekarang topiknya adalah ‘choice and flexibility of services‘. Orang-orang (apalagi di Indonesia) lebih sibuk milih texting mo pake BBM, WhatsApp, Telegram, WeChat, Line dll. Browser pun banyak pilihan bahkan keyboard app pun bejibun opsinya. Adu banyakan bonus SMS? kayanya dah ga segitu relevan lagi. Dengan pasar mayoritas adalah orang-orang usia muda, mereka akan lebih ribut kalo akses Facebook bermasalah dibandingkan ga dapat bonus SMS :P (ini ilustrasi ngasal saya sendiri).

Di sinilah OTT bermain. Mereka tidak berebut duit dari adu jualan layanan telco (SMS, Tarif Murah, panjang-panjangan Talktime, Paket Data, dll). Yang dikejar justru gimana caranya mengontrol value chain digitalnya dengan model bisnis beraneka ragam. Misalnya mulai dari jualan perangkat elektronik ala Apple, online advertising ala Google, lisensi software, e-commerce dan banyak lagi. Dan mereka ga direpotkan dengan keharusan untuk mikirin (apalagi membangun) infrastruktur jaringan internetnya.

Bayangan orang umumnya tentang Telco vs OTT
-source: IDATE (http://blog.idate.fr/telcos-vs-ott-services/)

Kenapa? Ya karena para operator Telco, ISP sudah melakukan itu semua. Makanya peta persaingan jadi ga simetris lagi antara operator vs OTT player.

Trus operator mesti ngapain? Ikut-ikutan menjadi OTT player juga? Jualan layanan OTT juga?

Hmmmm, ga harus gitu sih. Dah agak terlambat apalagi kalo mindset orang-orang bisnisnya masih belum nyampai ke sana. Nurut saya, seperti halnya OTT, akan lebih baik kalo telco bisa cari cara/inovasi untuk membuat platform, servis, layanan yang telah dimiliki saat ini untuk lebih ‘open’.

**Telco sudah ga boleh rakus mo makan semuanya. Telco sudah ga boleh lagi ngontrol interaksi atau experience konsumernya. Telco ga boleh lagi jadi walled garden kalo masih pingin eksis.

Tentu saja terminologi ‘open’ ini ada batasannya. Tapi konteksnya di sini para pengguna Telco bukan lagi pengguna biasa yang ingin mengirimkan SMS ke pacarnya atau nelpon gebetannya. Tapi bisa dikembangkan ke sesuatu yang baru. Dalam hal ini adalah para developer, bukan sekedar Content Provider lagi.

Open Source?
Not like that. Kita ga ngomongin ‘source‘-nya, tapi ‘service‘-nya.

Tujuan akhirnya nanti adalah membentuk sebuah ekosistem seperti halnya Google/Apple lakukan.
Analoginya, Nokia jaman dulu adalah sebuah produk all-in. Okelah waktu mereka pakai Symbian udah mulai ada API yang dibuka supaya developer bisa bikin aplikasi untuk ponsel-ponsel nokia. Cuman aplikasi di Nokia belum tentu jalan di Ericsson atau Siemens.

Kemudian 2007, Apple memperkenalkan iPhone yang mengubah segalanya (OK ini lebay tapi fakta). Bukan fisik ponsel atau iOS nya yang membuatnya revolusioner. Adalah iTunes dan AppStore yang membuat iPhone bisa sedahsyat yang diketahui orang hingga kini. Apple hanya membekali iPhone dengan fitur/aplikasi dasar saja. Selanjutnya komunitas pengembang (developer) lah yang berperan penting. Dengan API-API dari IOS yang memungkinkan developer membuat aplikasi yang berinteraksi dengan hardware ponsel, API-API dari layanan-layanan internet, toko tempat menjual aplikasi, skema bagi hasil yang bagus (mungkin iOS developer bisa kasih komentar di sini, @didats? @finan?).

Google kurang lebih menerapkan skemanya sama. Begitu juga Microsoft bahkan Blackberry yang kini nasibnya hidup segan mati juga ga jelas.

Dah di sini masuk bahasan soal Telecom API.

Ada yang pernah tau tentang Twilio?

Twilio menyediakan web service API yang memungkinkan para developer untuk membuat aplikasi yang punya kemampuan mengirim dan menerima SMS dan bahkan membuat serta menerima panggilan telepon. Aksesnya cukup over HTTP.

Ada juga Nexmo, dengan tagline “Any country. Any volume. Any scale.” dia juga menawarkan SMS dan Voice API. Dan yang menggunakan API dari Nexmo ini sudah pada kalian kenal kok. Ada Line, Kakao Talk, Viber :)

Kurang lebih seperti itu lah yang harus dilakukan operator telco saat ini. Ya ya, inipun Telco keduluan orang. But it’s better late then too late isn’t it? #ehh… :P

Mengutip wawancara antara Vanessa Barbé, Produser Telecom APIs Conference dengan James Parton, Direktur Twilio Eropa. Saat Vanessa menanyakan tentang status Telecom API saat ini kaya gimana, James mengatakan:
[blockquote source=”James Parton”]”Honestly it has been tough for Telecom Operators to date. APIs require a new mindset inside the Telco. Its no longer about command and control, its about being open and being committed to long term community building. Historically Telco’s have not been great at that.“[/blockquote]

Jadi kalo ga punya mindset ke arah sana, masih pola pikir lama, ya makin suram aja lah.
Seperti yang saya bilang di ** di atas, Telco dah ga bisa maksa pegang kontrol semuanya, masih mengandalkan model bisnis “all-in-one” lagi. Dan sebagai orang community & open source, it’s already well said by James :)

Contoh kolaborasi Telco & OTT :)
– source: http://blog.idate.fr/telcos-vs-ott-services/

Jangan kejebak lagi berinovasi dengan fokus adu fancy teknologi (NFS, IMS, RCS, M2M, bla bla bla). Saatnya geser ke ekosistem. Balik ke soal mindset tadi, ini butuh pemahaman gimana caranya ekosistem tadi harus dibentuk dan gimana caranya nanti si ekosistem tadi dapat menyerap bahkan menginkatkan inovasi.

It’s time to mashup. Time to collaborate.

Buat para pengembang aplikasi, yang disasar bukan lagi long tail app. Pasar Enterprise yang harus jadi fokus.

Tapi (ada tapinya nih) tetap ada PR-PR juga dibaliknya, apalagi yang terkait regulatory. *sigh* :D

Anyway, ada yang tertarik jadi tester Telecom API (versi cupu-cupuan dulu)?