World Cup 2006, Day #2

Inggris 1 – 0 Paraguay
Pertandingan tampaknya akan berjalan menarik saat Ingris membuka babak pertama dengan sebuah gol pada menit ke-3. Niat Calos Gamara untuk membuang umpan silang Beckham ternyata berakhir bencana buat Paraguay. Bola yang sundula Gamara malah masuk ke gawang sendiri.
Nama besar Inggris ternyata tidak menjadi jaminan mereka akan bermain atraktif. Babak pertama menurut saya cenderung membosankan. Permainan pertama Inggris tidak begitu berkembang. Lapangan tengah yang menjadi kunci serangan Inggris seperti yang telah diperlihatkan selama friendly-game sebelum final Piala Dunia dimulai tidak menunjukkan kualitasnya. Gerard dan Lampard kembali tidak padu. Joe Cole di kiri sering salah posisi karena Ashley Cole terlalu sering overlap dan terlalu jauh untuk diberi umpan trobosan. Beckham lumayan. Sepertinya Eriksson terlalu memaksakan Gerrard dan Owen yang tidak dalam kondisi fit untuk bermain.
Jika terus seperti ini, Inggris bisa-bisa tidak berkutik menghadapi Swedia atau bahkan Trinidad & Tobago.
Frank Lampard menjadi Man of the Match di pertandingan ini.

Trinidad & Tobago 0 – 0 Swedia
Berlawanan dengan pertandingan pertama Matchday #2, Trinidad Tobago – Swedia menyuguhkan permainan terbuka. Swedia seperti yang saya duga sebelumnya, sejak awal sudah menggebrak dengan melancarkan serangan-serangan berbahaya ke daerah pertahanan wakil benua Amerika ini. Shaka Hislop menjadi pahlawan tim TnT dengan menggagalkan peluang-peluang gol Swedia. Sangat kontras mengingat penampilannya di Premiership sungguh menyedihkan.
Namun begitu, bukan berarti tim debutan ini tidak dapat melakukan perlawanan. Dimotori oleh eks striker Manchester United, Dwight Yorke, TnT juga menunjukkan pada dunia bahwa mereka bukan tim kacangan. Mereka juga dapat menciptakan peluang-peluang berbahaya bahkan hanya dengan 10 pemain saat Avery dikartu merah wasit di awal babak kedua.

Dwight Yorke mungkin menjadi satu-satunya nama yang kita kenal di tim TnT atas kiprahnya di liga Inggris. Dia dinobatkan menjadi Man of the Match pertandingan ini. Dan menurut saya, partai ini adalah salah satu pertandingan imbang paling seru dan sangat untuk ditonton dibandingkan Inggris – Uruguay.

Argentina 2 – 1 Pantai Gading
Pertandingan grup C yang disebut juga sebagai grup neraka antara Argentina – Pantai Gading berlangsung seru. Duel striker Chelsea antara Crespo – Drogba menjadi kisah tersendiri. Dengan datangnya Sheva, pertandingan ini seakan adalah partai unjuk gigi di antara keduanya untuk dapat posisi utama di tim juara liga Inggris tersebut.
2 pemain yang dibuang Barcelona menjadi inspirator raksasa sepakbola Amerika Latin ini. Juan Roman Riquelme menunjukkan kelasnya sebagai saah satu playmaker terbaik dunia dengan menciptakan peluan bagi Crespo untuk mencetak gol di menit 24. Crossing tendangan bebasnya di menit 24 gagal dihalau dengan baik oleh barisan pertahanan wakil Afrika ini. Crespo langsung yang dalam posisi bagus langsung mencetak gol.
14 menit kemudian Riquelme kembali menunjukkan kemampuannya. Setelah membuat barisan pertahanan Pantai Gading kelabakan, Riquelme meyodorkan umpan terobosan yang bagus kepada Saviola. Si Kelinci yang tinggal berhadapan dengan kiper tidak menyia-nyiakan kesempatan. 2-0 untuk Argentina. Pertandinganpun berjalan semakin seru dengan serangan silih berganti dari kedua belah pihak.
Di menit 82 kedudukan kembali berubah. Lewat umpan silang Bakary Kone, Didier Drogba mencetak gol pertamanya di final Piala dunia. 2-1.
Walaupun 2 striker Chelsea sama-sama mencetak gol, namun Saviola yang dinobatkan sebagai Man of the Match. Namun saya melihat yang lebih cocok sebenarnya adalah Riquelme.

This entry was posted in General by nuri. Bookmark the permalink.

About nuri

petting cats, writing codes and taking photos / bedroom dj / reading books and traveling / very happy finally visited Mecca and Kyoto :)