macOS.Gaslight | Saat Malware Menargetkan AI Agent Analisnya, Bukan Sistemnya

macOS.Gaslight

“Gaslight is a warning signal: as AI enters security operations, attackers are starting to target the AI layer itself.”

Seperti quote di atas, Gaslight adalah sebuah malware di lingkuyang dibuat menggunakan bahasa Rust yang menyisipkan payload prompt injection yang dirancang untuk membingungkan dan menipu tool AI milik security analist agar membatalkan atau menolak analisis.Mengutip laporan dari SentinelOne Labs, Gaslight diduga kuat berasal dari group hacker yang berafiliasi dengan kelompok cyber crime Korea Utara.

Malware ini memiliki kemampuan unik: dia bukan hanya mencuri data, tapi juga mencoba menipu sistem AI yang digunakan analis malware agar menghentikan proses analisisnya itu sendiri. Dia akan membuat semacam embedded cascade system-failure messages palsu. Ini menjadi sinyal bahwa AI-assisted security pipeline mulai menjadi target baru cyber attack .

Gaslight menggunakan Telegram bot sebagai channel command-and-control (C2). Melalui mekanisme polling, attacker bisa memberikan perintah jarak jauh dan menerima hasil eksekusinya. Menurut analisa SentinelOne setidaknya ada 6 remote command yang digunakan malware ini, yaitu:

  • help, menampilkan pesan bantuan untuk semua command yang ada
  • id, untuk identifikasi target ke si attacker
  • shell, untuk eksekusi shell command via execvp
  • kill, untuk terminate target process berdasarkan PID
  • upload, untuk transfer file ke attacker via mekanisme “attach://” Telegram
  • stop, untuk menghentikan eksekusi malware di mesin target

Selain itu, malware ini juga memanfaatkan LaunchAgent macOS untuk menyamarkan dirinya supaya tidak mudah dikenali.

SentinelOne: Embedded LaunchAgent menggunakan label com.apple.system.services.activity

Pola seperti ini (menggunakan Telegram Bot, WhatsApp dll) tentu menyulitkan deteksi karena memanfaatkan platform umum yang terlihat seperti traffic normal. Untuk PoV sebuah perusahaan, kebutuhan monitoring terhadap komunikasi keluar yang tidak biasa menjadi sangat kuat, terutama dari endpoint sensitif.

Hal lainnya adalah adanya sebuah script Python dalam bentuk base64 encoded yang tertanam di malware ini. Script ini bertugas untuk mencuri informasi dengan cara mengumpulkan riwayat shell command, daftar app terinstall, snapshot running process, system hardware and software profile, macOS Keychain database, serta data browser Chrome, Brave, Firefox, dan Safari. Data-data tersebut akan dikompres ke dalam sebuah file zip (“temp/collected_data.zip”) dan diupload via Telegram.

Menariknya, konfigurasi seperti token bot Telegram dan chat ID tidak ditanam langsung di dalam malwarenya, tetapi diberikan saat runtime, dan bahkan disamarkan untuk menghindari deteksi.

Yang paling menonjol, malware ini mencoba menghindari deteksi berbasis AI dengan menyisipkan sekitar 38 system-error-message palsu (misalnya error memori, disk penuh, token kadaluarsa). Tujuannya adalah membuat tool AI bingung yang kemudian:

  • Menghentikan analisis
  • Menganggap sistem tidak stabil
  • Salah menginterpretasikan kondisi

Pendekatan ini dianggap sebagai upaya baru untuk mengeksploitasi sistem analisis keamanan berbasis LLM, yang kini semakin banyak digunakan dalam proses reverse engineering malware.

SentinelOne: Some of fake LLM data messages embedded in the binary

Untuk mengetahui detil cara kerja malware Gaslight ini, silakan baca laporan dari SentinelOne Labs berikut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *