Dilema aparat di Indonesia

Sudah menjadi pengetahuan umum (bukan rahasia umum) bahwa negaraku terinta ini terlalu banyak memiliki oknum aparat yang nggregetin mulai dari level paling bawah sampai paling atas. Saking banyaknya oknum aparat ga bener tersebut, aparat lain yang banting tulang melakukan tugasnya dengan jujur dan penuh komitmen jadi tidak terlihat perannya. Entah karena kurangnya publikasi mengenai mereka atau emang kuantitasnya yang kalah jauh dibanding dengan kelompok yang nggregetin tadi itu.

Kompas hari ini (23 Maret 2006) menampilkan 2 kelompok tersebut di atas. Frontpage, tepat di bawah berita utama terdapat berita 2 kolom dengan judul “Empat Anggota Brimob Dalangi Perampokan“. Kayanya ini udah bukan menjadi berita asing lagi bagi kita kan ….

Di halaman ketiga, “Miliaran Rupiah dibagi-bagi“, kembali oleh para oknum aparat ba****t itu. Bukannya dibagi-bagi ke rakyat tapi buat kroni-kroninya sendiri. Masih di halaman tiga, “Ajun Komisaris Sup Diperiksa secara Intensif” berkenaan dengan kasus pemerasan.

Halaman 7 menampilkan karikatur seorang berbaju safari tengah ngorok dengan khidmad di kursi kulit nan empuk dengan mikrofon bertangkai panjang tepat di depan mulutnya. Judul tulisannya “Wakil Rakyat, Manusia Setengah Dewa?”. Kayanya mereka emang cuman mewakili rakyat buat ngorok dan ngabisin duit negara.

Di halaman 26, 4 petugas Bea dan Cukai ditahan karena terlibat penyelundupan motor gede. Headline halaman itu sendiri berjudul “Pegawai Provinsi Ditangkap” diduga menipu 12 CPNS di Banten. Dan masih ajah orang-orang tertipu tadi adalah mereka yang berharap bisa diterima jadi PNS dengan menyetorkan uang suap antar 20 sampai 40 juta.

GUOBLOK!!!

Orientasi orang-orang seperti ini kalo sudah diterima adalah Break Event Point, balik modal. Abis itu cari untung. Maka tidak akan pernah pupuslah rantai kaderisasi pejabat/aparat bobrok di negeri ini.

Sepertinya Kompas masih memiliki berita mengenai ulah para aparat/pejabat brengsek itu di halaman berikutnya. Anggota Polri yang gugur akibat kerusuhan di Abepura beberapa hari lalu seakan terlupakan begitu saja digantikan oleh berita teman-temannya yang ga bener itu.

Phew … kayanya perlu di oursource ajah kali yah plus dilakukan audit internasional secara rutin :D

Software Bajakan Boleh Dipakai Resmi Lho …

Cuplikan dari detikinet.com
Dalam undang-undang, software bajakan yang dilarang adalah untuk kepentingan komersial. Jadi untuk kepentingan komersial dilarang! tapi untuk kepentingan pelatihan, dan di instansi-instansi itu diperbolehkan,”

Kalimat di atas adalah pernyataan seorang AKBP1 di Makassar berkaitan dengan razia software bajakan yang sedang dilakukan di sana. See, razia software bajakan emang dibenarkan dan seharusnya demikian. Cuman komentar si Oom AKBP itu kalo ga dibilang keblinger kok ya o’on banget kesannya.

Kalo dalam pengertian orang awam hukum seperti saya ini, berarti ada beberapa kesimpulan dari pernyataan di atas:
1. Jualan software bajakan = HARAM (pokoknya yang menghasilkan duit dari pemakaian/penjualan software tersebut)
2. Instansi-instansi (termasuk instansi kepolisian sendiri, mungkin) memakai software bajakan = HALAL (atau mungkin diharuskan ?)

Nah bikin SIM ajah ke salah satu instansi kan kita mesti keluar duit, berarti si instansi dapat duit. Itu bukan termasuk komersil yah ? Ck ck ck ck. Si Oom kayanya cuman inget isi pasal 72 ayat 3 UU No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta soal kata “kepentingan komersil”.

Bunyi lengkap pasal 72 ayat 3 tsb adalah :
Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Tapi apakah memang pasal tersebut diterjemahkan sesuai dengan komentar Oom AKBP di atas? Saya rasa kok nggak yah. Trus pasal-pasal lain dikemanain ? Belum lagi pernyataan di atas kok bertentangan dengan surat dari Menkominfo periode sebelumnya (Syamsul Mu’arif) yang mengajak melakukan tindakan konkrit berkenaan dengan pemakaian software di instansi pemerintahan. Salah satunya adalah dengan tidak menggunakan software bajakan dan menggunakan solusi alternatif software open source.

Apakah ini untuk ngeles bahwa kenyataan instansi-instansi pemerintah tingkat pemakaian software bajakannya mencapai 90% ? Jadi dengan pernyataan tersebut di atas, angka 90% tersebut dibenarkan (baca:dihalalkan). Pantes saja razia selama ini beraninya cuman ke toko-toko di Mall (termasuk toko komputer).

Nah loh. Gimana bisa bener penegakan hukum kalo caranya seperti ini, aparatnya sendiri bikin pertanyataan-pernyataan rancu yang keblinger kaya gitu.

Haiyaaa ….

1:Ajun Komisaris Besar Polisi

Diary Ciledug

Ngga kerasa, udah sebulan lebih ga posting. Yah waktu tersedot abis karena kutukan angka 4. Menurut kepercayaan tionghoa, angka 4 adalah angka sial. Nah saya ketiban sial karena gue ngurusin 4 buah angka 4 :P Dodol emang kominfo.

Nah karena angka sial itu, jatah cuti bulan Februari yang semestinya jadi acara indah pacaran ama yayang di Makassar jadi terganggu karena harus dipanggil balik ke Jakarta. Hiks. Di Jakarta camping mulu di kantor tiap weekend. Balik ke bad habit waktu masih ngantor di GSI1.

Anyway, minggu ini adalah minggu yang bikin kelabakan. Masih terkait angka sial itu, saya harus wira-wiri bin bolak-balik Pancoran-Ciledug-Salemba untuk ngurusin wisuda.

Rabu, 15 Maret 2006
Pagi (pulang ktr dini hari), bersama Bayu, Roni, Jim, Asep kita ke kampus. Bikin SPBM2 di loket 12 abis itu naek ke ruangan Pak Mardi n ngobrol + becanda-becanda kaya biasanya di sana. Jam makan siang Pak Mardi cabut ke imigrasi ngurusin passpor, kita ber-5 ngemil di kantin samping ASTRI3. Wah bening-bening pemandangannya :D Selesai makan perjuangan di mulai. Ke loket 7 minta daftar nilai, dan masalahpun muncul buat saya dan bayu.

Dari syarat 12 MKM4 yang harus diambil, punya kita berdua cuman ada 10. Nah loh, ternyata Bahasa C dan Bahasa Pemrograman Dasar belum di flag sebagai MKM. Aih aih aih, mesti ke Pak Hari untuk ngurusin ini. Sialnya beliau sedang seminar, jadi pulang paling sore jam 5. Buset dah.

Ya udah akhirnya ke Pak Adi Widjaya buat minta tolong. Ternyata banyak juga yang kasus serupa, terutama NIM5 dibawah 2001. Akhirnya Pak Adi mendata semuanya untuk diberesin malam itu juga. Phew… Dah jam 3 sore. Ya udah akhirnya balik ke kantor dan balik ngurusin angka sial bertiga ama Razi dan Pak Arman. Mereka balik jam 2 pagi, saya masih terus krn harus nyiapin swing over buat migrasi datacenter. Balik kamis jam 7 pagi.

Kamis, 16 Maret 2006.
Telpon berdering mulu, padahal baru juga bobo :). Online dari kontrakan buat remote kerjaan bentar. Sarapan, trus jam 11 berangkat lagi ke Ciledug. Sampe di sana loket 7 & 8 dah kaya loket PT KAI7 di Juanda. Antrian mahasiswa kaya antrian calon penumpang kereta. Langsung deh print DRAFT TRANSKRSIP nilai buat syarat pendaftaran wisuda.

Dapat print-out nya dengan keterangan “belum lulus teori” dan harus menghadap kepala program studi FTI8 (which is Pak Hari Soetanto). Nah loh, kalo belom lulus teori kok bisa di approve buat bikin skripsi sampe kelar sidangnya pula. Ya udah akhirnya ngurus ke Pak Hari sekalian mo ngapus satu mata kuliah pilihan ( kebanyakan SKS9 :P ). OK, mata kuliah peran-sis diapus dan checking flag lulus teori. Ternyata ga ada masalah, gue n yang lain (more than 20 ppl) lulus teori semua kok. Trus gemana bisa BAAK11 nyatain kita belum lulus teori ?

Satu rombongan balik lagi ke loket 7. Minta printout lagi. Dan diriku yang malang ini kembali sial.

“Belum lulus teori dan nilai yang mo diapus masih nongol, silakan ke kaprodi10 lagi”.

Anjrit, ini mana yang bener sih datanya? Balik lagi ke Pak Hari. Check check check, di Pak Hari OK semua kok datanya, yang hapus nilai udah di entry, cuman belum di “verifikasi” oleh kepala BAAK11. Haiyaaa… turun lagi ke BAAK, ternyata udah ada segerombolan mahasiswa sdg menunggu kedatangan kepala BAAK yang sedang keluar kantor. Jam 3 akhirnya yang ditunggu datang, penghapusan nilai selesai di-“verifikasi”. Balik ke loket 7, minta print out draft transkrip nilai. Kembali dinyatakan “belum lulus teori”. Anjritttttttttt, ini gimana seh. Setengah sewot, saya ma beberapa orang curhat lagi ke Pak Hari sampe beliau bete karena kok kasus yang sama mulu sih kejadiannya. Ini pasti operatornya ajah neh yang salah mengartikan request. Pak Hari menegaskan bahwa anak-anak FTI datanya udah OK semua. Beliau malah menyarankan “udah deh, langsung daftar wisuda ajah ga usah cek2 transkrip lagi. Toh nanti pas daftar wisuda langsung di print juga semuanya”.

Karena males kalo nanti kembali mendapat piala “belum lulus teori”, akhirnya inisiatif untuk curhat ke kepala BAAK. Dan beliau juga bete karena udah belasan mahasiswa baru saja komplain hal serupa. Aih aih, akhirnya saya diantar langsung ke dalam ruangan loket 7. Dan ternyata emang problem di operatornya yang salah menterjemahkan request.
Aih aih aih aih …

Jam 3 lebih akhirnya draft nilai keluar, MKM udah 12, lulus teori. Udah deh abis itu bayar uang wisuda. Done. Selanjutnya fotokopi kwitansi pembayaran tersebut. Done. Kemudian balik ke loket 6 nyerahin kwitansi, SPBM & foto 3×4 (2 lembar) 4×6 (4 lembar). Masalah belum kelar.

Si Jim foto 4×6-nya bermasalah karena “kegedean”. Nah loh, kegedean gemana? Kan dah bener ukurannya 4×6. Akhirnya minjem poto 4×6 orang lain yang foto di kampus. Ternyata ukurannya kagak ada 4×6 kaya punya kita yang foto di Fuji melaikan 4×5. Ya ampun, mereka punya penggaris ga sih? Si Jim langsung deh sewot. Dan karena dah bete akibat di-ping pong seharian dia langsung foto ajah di kampus walo tahu hasilnya tidak memuaskan.

Saya ma Bayu ragu-ragu mo foto juga kaya Jim. Ya udah akhirnya kita pulang ajah.
Jam 7 malam ke kos-kosan Bayu. Pinjam jas almamater buat foto. Bermodalkan Canon Ixus 5, akhirnya kita bikin studio foto dadakan di kamar Bayu. Setelah retouch dikit pake photoshop, aku ma roni langsung cabut ke FIP13 Matraman. Jam 21.30 foto kelar, pulang ke kontrakan. Sampe rumah langsung online ngurusin kerjaan yang tertunda gara2 ke Ciledug. Aih, CMG masih ajah ada problem. Ya udah deh, mending konsen ke migrasi data center ajah. Si Kodok ma Odong standby di kantor.

Jum’at, 17 Maret 2006
Jam 9 ada meeting masalah performansi SMSC dengan vendornya. Abis sholat Jum’at langsung cabut lagi ke ciledug buat ngurusin foto. Kali ini khusus pinjem penggaris milik Mbak Erna buat jaga-jaga kalo loket 6 rese lagi soal ukuran foto. Di loket 6 (sambil naruh penggaris depan loket) saya nyerahin foto versi 1 (yg bukan dari digicam) sambil menegaskan kalo ini udah 4×6, boleh dicek dengan penggaris. Eh, tanpa komentar langsung di proses tuh tanpa ba-bi-bu lagi termasuk punya Bayu dan titipannya (Roni, Asep, Mas Poer). Ganti si Jim yang mencak-mencak.
Haiyaaa … thinkless deh (maksudnya ga abis pikir, tapi kok kayanya malah keabisan pikiran yah ? hehehehehe). Urusan foto selesai kita ke ruangan Pak Hari buat nanya-nanya soal prosedur untuk apply jadi dosen di Budi Luhur. Ceritanya si Jim pingin ngajar di sana, akhirnya kita bertiga malah di minta jadi dosen. Dan dasar dah ciri khasnya Pak Hari, kita malah ngobrolnya lama di luar topik ngobrolin perkembangan kampus tercinta sambil becanda-becanda, lupa kalo di luar ada antrian :D hihihihihihi.
Balik ke kantor dan mesti bertarung lagi dengan angka sial.
Phew … 1 masalah selesai, sisanya masih ngantri untuk diselesaikan :P


1: Graha Surya Internusa
2: Surat Persetujuan Biodata Mahasiswa
3: Akademi Sekretari
4: Matakuliah Kendali Mutu
5: Nomor Induk Mahasiswa
6: Ga ada apa-apa
7: Kereta Api Indonesia
8: Fakultas Teknik Informatika
9: Sistem Kebut Semalam (??)
10: Kepala Program Studi
11: Biro Administrasi Akademik & Kemahasiwaan
12: kelewatan hehehehehehe
13: Fuji Image Plasa gitu loh ….