Exhausted

I’m so exhausted …
just need more time for sleeping …

( coding MMS Decoder for MMS to Blog … 😀 )

Berhenti Menjadi Pengemis

eramuslim – Selama ini, saya selalu menyediakan beberapa uang receh untuk berjaga-jaga kalau melewati pengemis atau ada pengemis yang menghampiri. Satu lewat, ku beri, kemudian lewat satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan receh di kantong habis baru lah aku berhenti dan menggantinya dengan kata “maaf” kepada pengemis yang ke sekian.

Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena memang pertemuan dengan pengemis juga tidak setiap hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya seribu rupiah atau bahkan lima ratus rupiah, tergantung persediaan. Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya saya merasa bahwa dia pelit karena saya tidak pernah melihatnya memberikan receh kepada pengemis. Padahal kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku.

Bahkan mungkin gajiku itu besarnya hanya setengah dari gajinya. Tapi setelah apa yang saya lihat sewaktu kami sama-sama berteduh kehujanan di Pasar Minggu, anggapan saya itu ternyata salah.

Seorang ibu setengah baya sambil menggendong anaknya menghampiri kami seraya menengadahkan tangan. Tangan saya yang sudah berancang-ancang mengeluarkan receh ditahannya. Kemudian Diding mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, satu lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu rupiah. Sementara si ibu tadi ternganga entah apa yang ada dipikirannya sambil memperhatikan dua lembar uang itu.

“Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana, yang seribu rupiahatau yang seratus ribu?” tanya Diding.

Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan memilih yang lebihbesar. Termasuk ibu tadi yang serta merta menunjuk uang seratus ribu.

“Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus dikembalikan. Tapikalau ibu pilih yang seratus ribu, saya tidak memberikannya secara cuma-cuma. Ibu harus mengembalikannya dalam waktu yang kita tentukan, bagaimana?” terang Diding.

Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk menjawabnya. Terlihat ia masih nampak bingung dengan maksud sahabat saya itu. Dan, “Maksudnya…yang seratus ribu itu hanya pinjaman?”

“Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini, kalau saya berikan seribu rupiah ini untuk ibu, paling lama satu jam mungkin sudah habis. Tapi saya akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu agar esok hari dan seterusnya ibu tak perlu meminta-minta lagi,” katanya.

Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik memberikan pinjaman uang untuk modal bagi seseorang agar terlepas dari kebiasaannya meminta-minta. Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan membuat gado-gado. Di rumahnya ia masih memiliki beberapa perangkat untuk berjualan gado-gado, seperti cobek, piring, gelas, meja dan lain-lain. Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami bersama-sama ke rumah ibu tadi yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah reda, dan kami mendapati lingkungan rumahnya yang lumayan ramai. Cocok untuk berdagang gado-gado, pikirku.

***

Diding sering menyempatkan diri untuk mengunjungi penjual gado-gado itu. Selain untuk mengisi perutnya -dengan tetap membayar- ia juga berkesempatan untuk memberikan masukan bagi kelancaran usaha ibu penjual gado-gado itu.

Belum tiga bulan dari waktu yang disepakati untuk mengembalikan uang pinjaman itu, dua hari lalu saat Diding kembali mengunjungi penjual gado-gado. Dengan air mata yang tak bisa lagi tertahan, ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjaman itu ke Diding.

“Terima kasih, Nak. Kamu telah mengangkat ibu menjadi orang yang lebih terhormat.”

Diding mengaku selalu menitikkan air mata jika mendapati orang yang dibantunya sukses. Meski tak jarang ia harus kehilangan uang itu karena orang yang dibantunya gagal atau tak bertanggung jawab. Menurutnya, itu sudah resiko. Tapi setidaknya, setelah ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjamannya berarti akan ada satu orang lagi yang bisa ia bantu. Dan akan ada satu lagi yang berhenti meminta-minta.

Ding, inginnya saya menirumu. Semoga bisa ya.

Bayu Gautama

url:http://www.eramoslem.com/ar/oa/4a/13811,1,v.html

Plaza Senayan, riwayatmu kini …

Ada apa dengan PS (Plaza Senayan) ? Eh ini bukan modifikasi judul film (walo bintang film yang dimaksud jadi pemeran juga di iklan mal ini :P)

Gini, akhir-akhir ini (paling ngga 2 tahun ini) kan ada kemelut-sengketa-perselisihan (you name it) soal kepengurusan Gelora Bung Karno (GBK) or yang lebih kita kenal sebagai kompleks Senayan. Nah perseteruan ini terjadi antara Badan Pengurusan GBK (BPGBK) dengan manajemen PS. Hal ini membuat Oom Yos (gubernur Jkt) sampe menemui Presiden SBY untuk membahasnya.

15 Oktober lalu, Pengadinal Negeri (PN) Jakarta Pusat udah memenangkan gugatan BPGBK untuk melakukan sita jaminan terdahap kompleks PS. Nah kompleks itu meliputi PS Mall sendiri, PS Office Tower, apartemen PS A dan B, gedung parkir PS, PS Annex Living Stone ama Open Canteen. Hari ini juru sita negara udah datang untuk melakukan eksekusi.

Yah, Jakarta kan “Kota Seribu Mall” kalo boleh aku bilang gitu, jadi walo PS jadi “ilang” masih banyak mall lain yang siap menampung pengunjungnya 😀 atau mungkin akan banyak mall-mall baru yang akan di bangun lagi 😛

Aku pribadi sih lebih berharap kalo bisa ada taman kota, tempat orang bermain, istirahat bahkan diskusi. Jadi inget taman di depan Yu Yuan Garden di Shanghai. Dulu nuy dan teman-teman suka joging di daerah Mega Kuningan. Deket rumah, tempatnya enak. Selain jogging kita masih bisa maen bola, ikutan senam, maen skateboard, rollerblade (yg ini aku ga punya) atau sekedar nongkrong ajah. Namun kini arena bermain kita itu udah disulap jadi mansion mewah dan juga mall ma rumah sakitnya orang-orang kaya.