Makan Siang Terakhir Buat Rana

Gadis Kecil itu Sedang Menikmati Makan Siangnya, Saat Peluru Tentara Israel Menembus Kepalanya

Publikasi: 14/12/2004 09:40 WIB
eramuslim – Kesedihan yang mendalam menaungi satu keluarga Palestina yang tinggal di kamp pengungsi Khan Younis, Jalur Gaza. Sebuah tragedi akibat kebrutalan tentara Israel telah menimpa keluarga itu. Kekejaman tentara Yahudi itu terlihat dari sisa-sisa percikan darah yang masih melekat di bangku dan meja makan rumah mereka. Yang paling jelas terlihat adalah bekas tetesan darah dari kepala puteri mereka Rana, yang tewas akibat peluru tentara Israel yang menembus kepalanya.

Sang ayah, yang juga terkena tembakan di kakinya, memilih mengantarkan puterinya ke tempat peristirahatannya yang terakhir, ketimbang mengikuti saran dokter agar tetap di rumah sakit.

“Ini adalah sebuah kejahatan,” ujar ayah Rana, yang berusia 50 tahun. Bagi sang ayah, puterinya Rana yang masih berusia 7 tahun adalah seorang martir, seperti anak-anak Palestina lainnya yang tewas terbunuh karena kekejaman tentara Israel.

Makan Siang Terakhir Buat Rana

Masih segar dalam ingatan keluarga itu, tragedi yang terjadi 5 hari yang lalu, tepatnya hari Jumat, 10 Desember.

“Kamis semua sedang berkumpul di meja makan, menikmati makan siang bersama saudara-saudara kami yang kebetulan datang berkunjung. Kami mendengar suara tembakan di luar. Tamu dan anak-anak kami panik, karena mereka tidak biasa mendengar suara yang bagi kami sudah menjadi hal yang biasa. Kami menenangkan mereka dan mengatakan bahwa suara tembakan itu adalah hal yang biasa disini,” kisah ibu Rana yang masih terlihat sedih atas kematian puterinya.

“Suami saya menyelesaikan makan siangnya dan bergegas mencuci tangan. Tiba-tiba kami mendengar ia berteriak bahwa ia tertembak. Kami berlari menuju kearahnya untuk melihat apa yang terjadi. Namun saat itu pula kami mendengar teriakan puteri Heb, yang berusia 8 tahun.”

“Ia berteriak, ‘Rana! Rana!’ Lantas kami melihat Rana tergeletak di tempat tidur yang terletak dekat meja makan,” ibu Rana mulai menangis dan tidak sanggup lagi melanjutkan ceritanya.

“Meski kaki saya terluka kena tembakan, saya berlari untuk melihat Rana. Wajah Rana bersimbah darah, saya peluk dia dan langsung membawanya ke rumah sakit Nasser,” lanjut sang ayah.

“Rana tidak bergerak. Darah terus mengalir membasahi wajah dan tubuhnya. Tapi saya berharap dokter bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan nyawanya,” sampai di situ ayah Rana terdiam, menyadari bahwa takdir berkata lain.

Rana adalah siswa kelas dua sekolah dasar untuk pengungsi di kamp pengungsi Khan Younis di Jalur Gaza. Ribuan warga Palestina mengantar kepergian Rana ke tempat peristirahatan terakhirnya di pemakaman para pejuang Palestina yang telah gugur hari Jum’at itu.

Kini, tinggal kenangan tentang Rana yang masih hidup di keluarga itu. Dengan menahan kesedihan dan sakit di kakinya, ayah Rana masih melihat kaca jendela rumahnya yang pecah akibat tembakan peluru tentara Israel. Dari sana bisa terlihat pos penjagaan tentara Israel. “Anda masih bisa melihat bekas peluru pembunuh itu yang menembus kaca jendela ini saat kami sedang makan siang,” ujarnya.

“Antisipasi dan rasa ketakutan adalah bagian dari hidup kami. Para tentara Israel itu menembak siapa saja, laki-laki, perempuan, anak-anak tanpa pilih-pilih,” kata ayah Rana.

Rumah Rana terletak sekitar 600 meter dari pos penjagaan tentara Israel, dekat pemukiman Naveh Dikalem, sebelah barat Khan Younis. Bagi warga di pemukiman itu, tembakan tentara Israel ke arah pemukiman sudah menjadi hal yang rutin.

Bukan sekali ini saja, anak-anak Palestina tewas terbunuh akibat tembakan penembal jitu tentara Israel, entah itu di ruang kelas atau di pos penjagaan. Tanggal 13 Oktober kemarin, seorang anak perempuan Palestina berusia 10 tahun tewas, akibat peluru tentara Israel yang menembus dadanya. Gadis kecil itu ditembak saat sedang duduk di dalam kelas, di sekolah milik PBB yang didirikan di kamp pengungsi Gaza.

Seminggu sebelumnya, Imam Al-Hams juga ditembak oleh sekitar 20 tentara Israel saat ia sedang berjalan menuju sekolahnya.

Data yang dimuat situs Kementerian Kesehatan Palestina menyebutkan, sejak pendudukan Palestina pada bulan September 2000, sekitar 821 anak-anak Palestina yang berusia 18 tahun kebawah menjadi korban kekejaman tentara Yahudi itu. (ln/iol)

http://www.eramuslim.com/br/dn/4c/15817,1,v.html

Israel Laknatullah ….

This entry was posted in General by nuri. Bookmark the permalink.

About nuri

Hi, i am Nuri. Just another IT guy working on fintech and telco at Jakarta, Indonesia. While tech stuff became my daily breakfast, i also love to travel around the globe and taking photos also. I DJ on my spare time (not professionally) while dealing with a mess my 9 cats made at home :)