Aceh dan Pesta Tahun Baru

Pantaskah kita berhura-hura disaat saudara-saudara kita tengah dirundung bencana di Aceh sana ? Saya bukan penganut or penggemar pesta (including new year party) jadi jawaban saya dah jelas.

“Ga Pantas !”

So, no need to “happy new year” me :P

Kalo duit yang kita keluarkan untuk “memperingati” pergantian tahun tadi kita jadikan dana bantuan untuk Aceh pasti lebih bermanfaat. Satu terompet tahun baru harganya rata-rata Rp. 10.000 (could be more, could be less, but just take the average price). 4 terompet dah jadi 1 dus karton Indomie. Atau jadi 2 bungkus susu Dancow Instant yang 800gr. Nah andaikan seluruh warga Jakarta atau paling ngga peserta pesta tadi berpikir seperti itu akan terkumpul dana yang besar untuk bantuan.

Pa lagi duit buat kembang api, acara dangdut goyang mesum (sori, gwe dah keburu antipati ama dangdut gara2 goyang mesum itu). Acara tahun baru di Gran Melia tiketnya 3juta rupiah, dengan suguhan show Krisdayanti.

Pemerintah Malaysia dan Thailand sudah dengan tegas melarang pesta tahun baruan tsb. Indonesia ? Ga tau deh, mayoritas penduduknya susah diatur sih :) Padahal di banding kita, korban di Thailand dan Malaysia lebih sedikit. Jadi mestinya Indonesia lebih berduka. Kalo masih ajah ada yang hura-hura tahun baru itu mah namanya kelewatan banget… Wapres baru sebatas menghimbau, PakPres seperti biasa .. ragu-ragu, Bang Yos ok-ok ajah. Cuman Muryanto, menegaskan tak ada lagi kemilau kembang api yang selama ini menandai pergantian tahun Masehi di langit Kota Ponorogo, Jawa Timur .(republika 30/12/2004)

Aa Gym juga mengingatkan, bagi masyarakat yang hendak merayakan hendaknya menghindari acara yang penuh dengan hura-hura dan glamour. Aa Gym mengingatkan bahwa musibah di Aceh merupakan peringatan bagi bangsa Indonesia untuk berintrospeksi diri, betapa lemahnya manusia. Hhhhh … Ga cuman Aceh, Alor dan Nabire jangan dilupakan.

Semoga di dalam acara senang-senang tersebut mereka ga lupa juga dengan yang sedang menderita. Semoga dalam acara senang-senang tersebut akan terkumpul bantuan untuk meringankan beban korban di Aceh. Semoga, mereka yang mendapat rejeki amat berlimpah di malam tahun baru tsb dapat (khususnya muslim) dapat menyisihkan pendapatannya buat infaq dan zakat harta untuk membantu saudara-saudara di Aceh, Alor+Nabire. Krisdayanti ajah di Gran Melia dibayar 750jt. Nishab zakat harta senilai 85gr emas. Misal 1gr emas = Rp.100.000, 85gr emas = 8.5jt, dah wajib tuh. Tinggal mengeluarkan 2.5% nya untuk zakat. Cuman 2.5% ajah.

Semoga kita selalu diberi hidayah dan ingat supaya dapat bersyukur, tidak sombong dan kufur. What if we are one of them ?

Tikus

Negara kita sedang sakit, sedang di-adzab. Wapres Kalla menyatakan butuh Rp. 12.6 triliun untuk pemulihan kondisi Aceh hingga tahun 2009. (Republika 30/12/2004). Untuk tahap darurat dan rehabilitasi masing-masing perlu Rp. 1.3 triliun. Gubernur Aceh sendiri sedang disidik gara-gara korupsi :( Amien Rais sendiri mengeluarkan statement bahwa indikasi korupsi di BLBI mencapai Rp140 triliun lebih bahkan jika dihitung dengan bunganya bisa mencapai Rp200 triliun (Media Indonesia 19/12/2004). Belum lagi korupsi anggota dewan serta pemimpin daerah mulai level propinsi sampe kepala desa. Jawa Timur, tempat asal Presiden SBY total Rp 6,3 triliun. SulSel, asal wapres Kalla, trio DPRD nya (baramuli, syamsuddin, mansyur syam) nilep Rp 18 miliar. Belum lagi korupsi yang di sektor lain. Misalnya sudjono timan yang ga jelas juntrungannya sekarang dah nyolong Rp 369 miliar. Makanya saya termasuk yg pro, yg setuju dgn death penalty buat koruptor kelas kakap kaya mereka itu seperti yang diterapkan di Cina. Lirik Rhoma Irama bilang kalo kita gali lobang untuk tutup lobang. Tapi negara kita kini gali lobang, trus gali lobang lagi lainnya, sementara lobang sebelumnya bukannya tertutup malah makin dalem n lebar gara-gara “bunga”.

Astagfirullah, padahal kalo dana segede itu disimpan buat anggaran pengeluaran tak terduga seperti ini + bayar utang alangkah baiknya.

This entry was posted in General by nuri. Bookmark the permalink.

About nuri

Hi, i am Nuri. Just another IT guy working on fintech and telco at Jakarta, Indonesia. While tech stuff became my daily breakfast, i also love to travel around the globe and taking photos also. I DJ on my spare time (not professionally) while dealing with a mess my 9 cats made at home :)