Smash & Pertamax

Tahun kemarin gew sempat posting soal Pertamax yang harganya dah naik jadi Rp.4000. Nah kalo dihitung-hitung gwe bakal keluar dana kurang lebih Rp. 16000 untuk minum Suzuki Smash 2003 gwe buat 14 hari. Yah rutenya sih cuman dari daerah Bidakara-BlokM, Bidakara-Ambasador, Bidakara-Salemba. Paling jauh Bidakara-Mangga Dua pergi-pulang 😀

Nah yang cukup mengejutkan, dibanding Honda-nya Martono yang isi bensin seminggu sekali, Smash gwe baru minum lagi setelah 22 hari 😀 Kalo rute ke Mangga Dua ama ke Ambasador di hilangkan, isi pertamaxnya bisa sebulan sekali tuh 😀

Smash emang si gesit irit deh 🙂

DASAR GEMBLUNG !!!

Tanggal 13 Januari lalu Jakarta kembali “kelabakan”. Pasalnya ada ancaman peledakan bom (via SMS) untuk kedutaan Thailand dan Inggris. Yah polisi cepat tanggap dengan mengerahkan tim gegana + melakukan pengamanan ketat. Dan alhamdulillah pelaku penyebar ancaman tersebut berhasil di bekuk.

Nah kalo berdasarkan liputan6 nya SCTV, pelakunya tuh ternyata seorang cewek.
22 tahun.
Pacar seorang satpam kedubes Thailand.
Lulusan D3.
Alasan dia mengirimkan sms ancaman bom itu hanya iseng dan main-main saja. Ceritanya sang pacar mo pulang kampung ke salah satu kota di Jawa Timur. Tapi cewek geblek ini ga pingin si pacar pulang, maka dikirimlah sms ancaman bom itu. Pikirnya nanti akan diberlakukan keadaan darurat sehingga sang pacar batal mudik.

Nih cewek ga mikir apa kalo ulahnya yang super duper diper egois itu bisa bikin kacau suasana negara yg sedang kalut krn bencana alam. Well, at least suasana Jakarta. Dah ribut gara-gara anak raja minyak nembak orang di bar, ini ditambah kerjaan cewek geblek yang iseng ngancam ngeledakin kedubes supaya pacarnya ga mudik.

Pheww, ga habis pikir deh. Mestinya dihukum berat ajah tuh biar orang-orang iseng lainnya kalo mo iseng mesti mikir dulu. Kalo ruginya buat dia sendiri sih who cares. Lha kalo bikin keruh suasana kota kaya gini kan berabe. Bertambah lagi deh coreng di muka Indonesia soal isu terorisme dan suasana kondusif ibu kota. Cuman gara-gara ulah seorang cewek gemblung.

Gempa Jakarta

Hmmm, semalam malam ada gempa di Jakarta. Kalo lihat gambar-gambar pasca gempa Aceh, Jakarta kan termasuk daerah Hindia Plate, jadi paling ini gempa tektonik akibat pergeseran lempeng itu. Efek domino dari gempa Aceh ? Mungkin …

Kalo menurut BMG, gedenya 5.5 SR, trus pusatnya di Samudra Hindia, 20KM dari Ujung Kulon. Hmmm, mungkin kalo dari Jakarta sekitar 200KM.

Hmmm, yang jelas Jakarta dah mulai diserang demam berdarah. Dah ada korban tewas krn nyamuk jelek itu (emang ada nyamuk cakep ?). Dan akhir Januari-Februari seperti biasa, Jakarta siaga 1 soal banjir.

Rurouni Kenshin

these are the ost i have 🙂

Rurouni Kenshin OST 2
01-[Unmei no Hagaruma] ~Kyoto e no Purorodda~
02-[The Last Wolf Suite] ~Shishio Makoto no Kumikyoku~
03-[Hoeru Miburo] – a theme of Saitou Hajime
04-[Departure] / piano + acoustic version
05-Nihon Meisou] ~Ishin no Yami
06-[March of Ghost] ~Bourei no Koushin~
07-[Run to You] – a theme of Sagara Sanosuke
08-[Frozen Flare] – Shura no Fuuin-
09-[Welcome To My Nightmare] – Youkoso, Akumu e
10-[Dancing with Devils] – Saishuuheiki 1996
11-[Batousai Futatabi…]
12-[Starless] – Tsuki mo naku, Hoshi mo naku
13-[Departure] / master mix
14-[Starless] – Tsuki mo naku, Hoshi mo naku – / master mix

Rurouni Kenshin OST 3
01-[Hiten Mitsuryugiryu – Amakakeruryu no Hirameki] – a theme of Hiko Seijunrou
02-[Fallen Angel – Haiiro no Tenshi -]
03-[Kaoru to Misao 2 gut guitar version
04-[Ishin Tenpuku Keikaku]
05-[Sakura no Ki no Shita ni – Shisha no Shi -]
06-[Kaoru to Misao 1 pf version
07-[Reppuu] – a theme of Hiko
08-[Oniwa Banshu – Kyoto Tansakugata]
09-[Warriors Blue] – a theme of Shinomori Aoshi
10-[Kaoru to Misao 3 full mix version
11-[Warriors Suite]
12-[NA-GO-MI]
13-Ending Theme [Heart of Sword ~ Yoake Mae]

Relawan Elite, Relawan Politis?

Bahwa sebuah bencana bisa menjadi sebuah kesempatan politis, agaknya telah sejak awal kekhawatiran itu sudah banyak disampaikan oleh para elite sendiri. Dalam rangkaian perjalanan ke Aceh ini, Tim Relawan IT Air Putih menjumpai sendiri kenyataan tersebut.

Kita merasakan sejak awal hal ini. Banyak pengiriman relawan ditumpangi oleh kepentingan politis. Demikian juga motif2 operasional mereka di lokasi bencana. Semua seperti berlomba mendapatkan kredit point dengan tingkah egosentrisme yang keterlaluan, bahkan cenderung memalukan dan bikin muak.

Banyak pihak memanfaatkan situasi ini untuk tujuan yang kurang tulus, memperoleh simpati dan kepahlawanan. Sesuatu yang absurd dalam kondisi darurat dan kritis semacam ini. Sebab pahlawan sesungguhnya, adalah para korban dan survivor, bukan relawan atau petugas dan pejabat publik.

Menjadi relawan adalah panggilan kewajiban kemanusiaan, bukan sebuah sikap untuk tujuan lain. Para petugas dan pejabat publik, bahkan politisi, mereka harus melakukan ini karena itulah tugasnya. Mereka digaji oleh negara, uang rakyat dan menjalankan kewajiban politis dari jabatan yang harus dipertanggungjawabkan pada publik. Sekali lagi, itu juga bukan bagian dari sikap kepahlawanan.

Sehingga ketika mereka ini, memposisikan diri sebagai elite yang harus dapat prioritas dan karenanya membuat misi2 yang lebih tulus terpaksa minggir atau dijadwal ulang bahkan batal berangkat, maka itu adalah suatu pengkhianatan terhadap saudara2 kita yang sedang menderita. Tim AirPutih mengalami dan melihat kenyataan ini dengan sangat sedih.

Di halim, tumpukan bantuan seperti tidak ada yang memperhatikan ataupun mengurusnya. Baik di terminal maupun dalam area runaway lanud. Sejumlah pesawat TNI justru sibuk memfasilitasi pejabat dan rombongannya serta para relawan elite yang tidak jelas apa urusannya ke Aceh. Bahkan menjadi suatu acara selebritis ketika media elektronik meliputnya dengan skenario ekspose dan dramatisasi. Melupakan etika jurnalistik terdistorsi pesanan politis.

Di sisi lain, puluhan dan ratusan relawan dari segenap penjuru negeri, nampak terlantar menunggu giliran pemberangkatan yang tidak pasti. Bahkan dengan semena2 di-cancel, diusir bahkan dimarahi oleh petugas2 yang sok kuasa. Apa mereka itu sudah tidak memiliki nurani lagi dan memandang dirinya jauh lebih mulia dari para relawan yang menyediakan jiwa raga serta harta bendanya itu? Mereka mengulurkan tangan dengan tulus sementara para petugas itu hanya menjalankan tugas yang itupun tidak dilakukannya dengan becus!

Kondisi di daerah pun sama, dari Jogja, Malang dan daerah2 lain masuk kabar bahwa mereka tidak mendapatkan jadwal keberangkatan yang pasti baik itu melalui jalur komersial maupun pemerintah/militer. Padahal konsentrasi bantuan dan relawan menumpuk dimana2. Semua butuh segera ke Aceh dan tak ada satu pun lini birokrasi yang mampu memberikan solusi. Akhirnya mereka harus berangkat dengan berbagai cara, persis supporter bola yang hendak “ngelurug”, menonton kesebelasan pujaannya bertanding.

Sesungguhnya para petugas dan pejabat itu mereka jauh hina, karena dalam situasi genting semacam ini tak melakukan apa2 sementara mereka punya kekuasaan yang memungkinkan mereka menyediakan resource dan manfaat yang besar bagi semua pihak demi pertolongan pada Aceh yang sedang menangis darah.

Setiap detik di Aceh harus dibayar dengan nyawa! Dan sangat sedikit birokrasi di negeri ini yang memiliki kesadaran intelektual semacam ini.

Justru armada asing (Australia, AS) dengan tegas memprioritaskan angkutan bantuan serta relawan. Tanpa seleksi dan diskriminasi politis bahkan dengan sikap pelayanan bak maskapai Internasional kelas utama!

Tim AirPutih merasakan sendiri, bagaimana sebuah tim militer Australia dapat bersikap sangat ramah dan perhatian walaupun terkendala bahasa dan budaya. Jauh lebih ramah dari layanan penerbangan kelas utama negeri ini. Sebelum dan selama perjalanan mereka sangat melayani, bahkan urusan toilet dalam pesawat Hercules pun mereka perhatikan dan memberi notice pada setiap relawan yang menumpang.

Ketika lewat sepanjang garis pantai barat Aceh, mereka memberi kesempatan para relawan untuk melakukan observasi medan dari udara. Terbang dalam jarak dekat dengan ketinggian rendah yang kita tahu itu sangat beresiko dan mereka tetap lakukan! Sehingga mereka menunjukkan kualitas mental sesungguhnya sebagai Tim yang bekerja untuk tugas kemanusiaan. Saya dan sejumlah rekan relawan Air Putih maupun PMI yang ada di situ, sesungguhnya merasa malu, karena bangsa kita sendiri ternyata tidak memililiki kesadaran dan mental persaudaraan dalam kemanusiaan semacam itu.

Di bandara Aceh, kondisi serupa kita alami lagi. Di satu sisi, sejumlah besar petugas asing, helikopter US Navy dan alat2 angkut barang nampak bekerja tanpa henti tanpa banyak ba bi bu, bahkan mereka seperti robot yang sudah tahu persis apa yang harus dilakukan secara efektif dan efisien. Tanpa banyak bicara!

Di sisi lain, sejumlah besar petugas dan pejabat kita justru nampak sibuk dan saling bersitegang hanya untuk mengurusi kunjungan para pejabat termasuk presiden SBY. Mereka bekerja keras hanya agar Bapak senang. Sementara sejumlah besar bantuan untuk rakyatnya, tidak mereka urus. Bahkan justru sejumlah birokrasi rumit tetap dilakukan dan menjadi hambatan luar biasa.

Penulis menjumpai banyak sekali Tim Relawan yang sudah menunggu berjam2 bahkan berhari2 dan harus bolak balik ke bandara hanya untuk mendapatkan barang2 mereka, termasuk distribusi obat2an yang sangat diperlukan. Sedang angkutan berat sangat sulit didapatkan. Semua petugas yang seharusnya bertanggung jawab nampak lepas tangan.

Sejumlah Tim Relawan, nampak bekerja dengan inisiatif sendiri tanpa suatu koordinasi. Misalnya dari PMI gabungan dari berbagai daerah, bekerja keras merawat pengungsi dg. kondisi mengenaskan dan serba seadanya. Tenda darurat mereka nampak sudah tak mampu lagi menampung, sementara tidak jauh dari lokasi itu, sejumlah tenda mentereng berdiri untuk supporting kunjungan pejabat dan kelompok relawan elite. Yang bahkan untuk melayani masyarakat pun mereka mendapat suatu pengawalan khusus. Sungguh sebuah situasi paradoks.

Tim PMI gabungan di bandara, mengaku, sejak mereka tiba (dengan berbagai kesulitan yang sama), beberapa hari yang lalu, mereka belum sekalipun ke lokasi utama bencana (pusat kota Banda Aceh). Pertama, mereka tidak memiliki supporting tim di lokasi, kedua tak ada transportasi dan ketiga tak ada yang mengkoordinir penyaluran relawan. Mereka bekerja dengan inisiatif sendiri dan tidak tahu kemana harus pergi untuk mendapatkan peralatan medis dan obat2an yang mereka perlukan. Padahal di seberang mereka tumpukan barang bantuan dan tentu saja di dalamnya ada obat2an, teronggok begitu saja tak terurus.

Mereka akhirnya memutuskan menugaskan diri sendiri di areal bandara karena tak tersedia tim medis yang memadai di situ meskipun pengungsi banyak bertebaran di sekitar bandara. Termasuk orang2 terlantar yang ingin keluar dari Aceh.

Demikian juga sejumlah besar Tim Relawan yang baru tiba, nampak bingung, tak tahu harus kemana dan bagaimana. Transportasi tak tersedia dan tidak ada satupun petugas bandara maupun birokrasi yang merasa bertanggung jawab melayani mereka. Sekali lagi, mereka lebih concern pada kunjungan pejabat ataupun hanya mau melayani tim relawan elite yang disponsori oleh pejabat ataupun membawa misi2 poilitis.

Jawaban yang sangat menyedihkan kami terima, semua transportasi bahkan truk militer seluruhnya habis digunakan untuk evakuasi jenazah disekitar lokasi dimana presiden SBY akan berkunjung. Bahkan sejumlah besar mayat ini direlokasi ke tempat2 yang tak terlihat. Jalan2 dibersihkan dengan effort yang luar biasa. Mendadak, semua fasilitas tersedia, listrik, air, komunikasi dsb. pendeknya semua barang langka yang sebelumnya seperti mustahil bisa diselenggarakan di Banda Aceh.

Pertanyaannya, apabila mereka mampu melakukan itu, mengapa baru saat ini dilakukan? Hanya karena pejabat berkunjung? Dan mengapa upaya dan juga fasilitas itu lantas dihentikan lagi ketika presiden sudah kembali ke Jakarta? Padahal jenazah2 itu bagaimanapun tetap harus secepatnya dievakuasi.

Padahal, rakyat membutuhkan itu semua justru setelah semua pejabat minggat dari bumi Aceh.

Kami melihat dan mendengar cerita, bahwa posko2 resmi di pusat kota kini dikuasai oleh tim relawan elite dengan pakaian seragam mentereng dan juga mendapatkan fasilitas luar biasa. Ketika rakyat kesulitan air bersih, mereka justru masih bisa mandi dan berdandan. Mereka bisa makan di depan rakyat yang telah kelaparan selama seminggu penuh. Bahkan posko gubernuran, dari laporan Anjar dan Valens, sudah berubah menjadi studio infotainment multinasional dengan fasilitas yang luar biasa lengkap dan relawan2 kosmetik yang bekerja untuk kepentingan politis, pencitraan, dramatisasi, kapitalisasi media dsb.

Sementara diseluruh penjuru lokasi bencana, relawan, para jurnalis, juga relawan asing sesungguhnya bekerja keras dengan kondisi yang sama lusuhnya dengan korban yang mereka layani dan terus berjuang mendapatkan resource2 yang selalu diprioritaskan untuk kepentingan2 yang tidak jelas. Resource yang dibutuhkan untuk rakyat Aceh.

Semalam, saya sempat merenung di posko dan menitikkan airmata, melihat kemalangan Aceh, sebuah negeri yang sangat indah dengan rakyatnya yang demikian kuat dan tabah namun terjebak dalam kebusukan pengelolaan bencana di sebuah negara yang luar biasa brengsek. Saya berdoa, semoga para korban dan relawan sejati mendapatkan kekuatan dan jalan untuk menuntaskan misi kemanusian ini.

Saya dan teman2 di Tim AirPutih merasa malu dan kecil dihadapan pekerjaan kemanusiaan besar yang telah, sedang dan akan terus mereka (relawan dan korban) lakukan. Kami sama sekali belum melakukan apa2 dan merasa tidak pantas hadir di sini. (Salahuddien)

Dikutip dari artikel komunitas AirPutih

AirPutih

Situs yang beralamat di www.airputih.or.id adalah situs hasil sulapan para komunitas TI seperti APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), FTII (Federasi Teknologi Informasi Indonesia), Sekolah 2000, IndoWLI (Asosiasi Indonesia Wireless LAN Internet), perusahaan penyedia layanan komunikasi Gen-iD, PSN (PT. Pasifik Satelit Nusantara) dan AWARI (Asosiasi Warnet Indonesia).

Situs yang juga beralamat di http://www.acehmediacenter.or.id ini, berawal dari komunitas mailing list (milis) Airputih. Milis ini berisikan berbagai cerita yang dikisahkan para anggotanya dalam sebuah tulisan. Tergerak untuk berbuat sesuatu berkenaan dengan peristiwa di Aceh, komunitas Airputih kemudian mendapat bantuan dari berbagai pihak untuk membuat situs yang lebih tertata.

www.airputih.tk
www.airputih.or.id

ps:
jannn, kebacut tenan …. jadi keinget salah satu komentar relawan di tipi … indonesia ini kebanyakan seremoni, upacara nya … padahal langsung berangkat tanpa ada upacara serah terima, potret sana potret sini, potong pita, pidato napa ? Aceh, Sumut, Alor, Nabire mana bisa nunggu … 🙁 Pantas ajah seorang camat di Aceh di pecat bupatinya gara-gara kerja klemar-klemer. Dah nyairin dana 30jt dari kabupaten tapi malah nunda ga disalurin. Di satu pihak ada seorang kepala desa yang langsung menguras tabungan sendiri senilai 4jt untuk membantu korban, beli makanan + ngurusin jenazah korban.
Masya Allah….

Aceh dan Pesta Tahun Baru

Pantaskah kita berhura-hura disaat saudara-saudara kita tengah dirundung bencana di Aceh sana ? Saya bukan penganut or penggemar pesta (including new year party) jadi jawaban saya dah jelas.

“Ga Pantas !”

So, no need to “happy new year” me 😛

Kalo duit yang kita keluarkan untuk “memperingati” pergantian tahun tadi kita jadikan dana bantuan untuk Aceh pasti lebih bermanfaat. Satu terompet tahun baru harganya rata-rata Rp. 10.000 (could be more, could be less, but just take the average price). 4 terompet dah jadi 1 dus karton Indomie. Atau jadi 2 bungkus susu Dancow Instant yang 800gr. Nah andaikan seluruh warga Jakarta atau paling ngga peserta pesta tadi berpikir seperti itu akan terkumpul dana yang besar untuk bantuan.

Pa lagi duit buat kembang api, acara dangdut goyang mesum (sori, gwe dah keburu antipati ama dangdut gara2 goyang mesum itu). Acara tahun baru di Gran Melia tiketnya 3juta rupiah, dengan suguhan show Krisdayanti.

Pemerintah Malaysia dan Thailand sudah dengan tegas melarang pesta tahun baruan tsb. Indonesia ? Ga tau deh, mayoritas penduduknya susah diatur sih 🙂 Padahal di banding kita, korban di Thailand dan Malaysia lebih sedikit. Jadi mestinya Indonesia lebih berduka. Kalo masih ajah ada yang hura-hura tahun baru itu mah namanya kelewatan banget… Wapres baru sebatas menghimbau, PakPres seperti biasa .. ragu-ragu, Bang Yos ok-ok ajah. Cuman Muryanto, menegaskan tak ada lagi kemilau kembang api yang selama ini menandai pergantian tahun Masehi di langit Kota Ponorogo, Jawa Timur .(republika 30/12/2004)

Aa Gym juga mengingatkan, bagi masyarakat yang hendak merayakan hendaknya menghindari acara yang penuh dengan hura-hura dan glamour. Aa Gym mengingatkan bahwa musibah di Aceh merupakan peringatan bagi bangsa Indonesia untuk berintrospeksi diri, betapa lemahnya manusia. Hhhhh … Ga cuman Aceh, Alor dan Nabire jangan dilupakan.

Semoga di dalam acara senang-senang tersebut mereka ga lupa juga dengan yang sedang menderita. Semoga dalam acara senang-senang tersebut akan terkumpul bantuan untuk meringankan beban korban di Aceh. Semoga, mereka yang mendapat rejeki amat berlimpah di malam tahun baru tsb dapat (khususnya muslim) dapat menyisihkan pendapatannya buat infaq dan zakat harta untuk membantu saudara-saudara di Aceh, Alor+Nabire. Krisdayanti ajah di Gran Melia dibayar 750jt. Nishab zakat harta senilai 85gr emas. Misal 1gr emas = Rp.100.000, 85gr emas = 8.5jt, dah wajib tuh. Tinggal mengeluarkan 2.5% nya untuk zakat. Cuman 2.5% ajah.

Semoga kita selalu diberi hidayah dan ingat supaya dapat bersyukur, tidak sombong dan kufur. What if we are one of them ?

Tikus

Negara kita sedang sakit, sedang di-adzab. Wapres Kalla menyatakan butuh Rp. 12.6 triliun untuk pemulihan kondisi Aceh hingga tahun 2009. (Republika 30/12/2004). Untuk tahap darurat dan rehabilitasi masing-masing perlu Rp. 1.3 triliun. Gubernur Aceh sendiri sedang disidik gara-gara korupsi 🙁 Amien Rais sendiri mengeluarkan statement bahwa indikasi korupsi di BLBI mencapai Rp140 triliun lebih bahkan jika dihitung dengan bunganya bisa mencapai Rp200 triliun (Media Indonesia 19/12/2004). Belum lagi korupsi anggota dewan serta pemimpin daerah mulai level propinsi sampe kepala desa. Jawa Timur, tempat asal Presiden SBY total Rp 6,3 triliun. SulSel, asal wapres Kalla, trio DPRD nya (baramuli, syamsuddin, mansyur syam) nilep Rp 18 miliar. Belum lagi korupsi yang di sektor lain. Misalnya sudjono timan yang ga jelas juntrungannya sekarang dah nyolong Rp 369 miliar. Makanya saya termasuk yg pro, yg setuju dgn death penalty buat koruptor kelas kakap kaya mereka itu seperti yang diterapkan di Cina. Lirik Rhoma Irama bilang kalo kita gali lobang untuk tutup lobang. Tapi negara kita kini gali lobang, trus gali lobang lagi lainnya, sementara lobang sebelumnya bukannya tertutup malah makin dalem n lebar gara-gara “bunga”.

Astagfirullah, padahal kalo dana segede itu disimpan buat anggaran pengeluaran tak terduga seperti ini + bayar utang alangkah baiknya.

Program Peduli Aceh via SMS

dear all

bagi yang ingin berpartisipasi membantu saudara-saudara di aceh via SMS, dapat dilakukan dengan cara:
kirim ke shortnumber 2000 (untuk Telkomsel) dan 5000 (untuk XL & Indosat Group)
awali dengan kata “SCTV” kalo pingin tayang di SCTV
misal: “SCTV Ikut berduka cita atas musibah di Aceh …..”

kirim ke shortnumber 6288 (untuk Telkomsel) dan 5000 (untuk XL & Indosat Group)
ketik “RCTI PEDULI” untuk RCTI (text ga nongol di tipi)
awali dengan kata “TPI” kalo pingin tayang di TPI
misal: “TPI Ikut berduka cita atas musibah di Aceh …..”

Thanks to: adedarma (SCTV), adiwicaksono(Infokom/RCTI) for the info

Untuk teman-teman yang memakai provider GSM Telkomsel, per tanggal 28 Desember 2004 (H+2), berkat dedikasi dari rekan-rekan di Network Operation sedikitnya 2 BTSdi Banda Aceh telah pulih. Di Aceh sendiri, Telkomsel punya 81 BTS (56 BTS di Banda Aceh dan sekitarnya, serta 25 BTS di Lhokseumawe), yang siap melayani pelanggan sejumlah 23 BTS (2 di Banda Aceh dan 21 di Lhokseumawe). Secara bertahap beberapa BTS yang menghubungkan Lhokseumawe dengan Banda Aceh, secepatnya diupayakan beroperasi kembali.

Kanal komunikasi voice jadinya sangat minim. Oleh karena itu untuk komunikasi DARI dan KE ACEH sebaiknya via SMS ajah. Kalo tidak, jaringan bakal drop dan malah merugikan semua korban serta relawan di sana. So, dont be so f*****g selfish and egoist. Telkom sendiri katanya dah berhasil menghidupkan sekitar 40ribu sambungan telpon, sedangkan operator lain nuy lom punya data akurat. Selain itu hanya Flexy dan Telpon Satelit yang dapat digunakan di Aceh sampai saat ini.

Salute to the Telkomsel NetOp Team!

Kalo lihat di MetroTV semalam, Najwa Shihab menghimbau kalau bantuan yang datang dapat diperbanyak jenis SUSU FORMULA. I forgot the detail but there are so many babies out there in Aceh need it urgently. Roti dan biskuit juga sangat dibutuhkan saat ini karena beras dan mie instan belum dapat diolah dengan maksimal mengingat keterbatasan perangkat dan juga kurangnya relawan. Makan mie instan mentah malah dapat menimbulkan pencernaan.

-note
SBY-Yusuf Kalla ngeyel mo naekin BBM, LPG dah dinaekin 40% mentrinya pake komentar “Ga usah beli LPG kalo emang ga mampu”, anjrit banget deh. Ga ngelihat apa kalo bencana kaya gini BBM harga normal (inc. gas) amat sangat membantu. Masak makanan di Posko akan lebih cepat pake LPG dari pada minyak tanah. Solar akan sangat dibutuhkan untuk menjalankan backup power (genset dll) utk suplai listrik guna menunjang aktifitas baik itu komunikasi dan yang lainnya, terlebih lagi medis.