@Laura Lochore

Bu Guru, ini foto ayam goreng + tempe goreng + sayur lodeh + nasi. Di Melbourne ga ada ayam goreng seperti itu ya?
A friend say you can get ayam goreng @Es Teler 77 or Restaurant Nelayan in CBD


posted using MMS-2-Wordpress – nuy

a la sardines

Nah gambar berikut adalah antrian di halte busway kota. Benar-benar parah !! Ga ada line antrian dan ga ada yang mau mengalah.
Kalau kamu berharap ada “children, ladies n senior citizen first”, forget it deh *sigh* Yang ada kamu cuman didorong, didesak maju dari belakang, samping kiri dan kanan bersamaan.
Dulu saya mengalami hal serupa dengan menenteng 5 stavolt di masing2 tangan. Biru-biru deh telapak tangan. Kini mesti sabar sampai 6 bis lewat supaya bisa masuk dengan sedikit nyaman.
Tapi antrian tetap tak berubah. Kalau seperti ini saya jadi kangen Singapore…


posted using MMS-2-Wordpress – nuy

Bowling and Forearms Tendonitis

Tonight I’ve played bowling with Abdi and the gank πŸ™‚ It’s the first time I played bowling in 2008 (another resolution of 2008 :P) and the 2nd time on my life πŸ˜› 1st round we played 3 games … 5 people in 2 lines πŸ˜› Well not bad, i can reach above 100 points and make several strikes. 1 double.

We had to finish the game because all the lines will be used for tournament, it’s called Fun Bowling if I’m not mistaken. Than Abdi offered us to join the tournament or not? Why not. Me, ArGun and Faisal join with Abdi and Pak Agus. Well, we’re completely beginner (specially me) with 0 handicap πŸ˜› Whatever, we just want to continue to play bowling. It’s fun actually hehehehehhe. Again, 5 of us play in 2 lines.Forearm

And it happened. It’s look like my right forearm is injured. It’s my second time playing bowling in my life, so I dont know what kind of warming up I should take before playing the game. It seemed that my first round is the cause of the injury. I played mostly with ball 11 and 12. Maybe too heavy, but I didnt feel it at the moment.

My first swing in second round was kind of hurt. Lost my grip and I almost drop the ball 10. Arrrgghhh, i think i just had what it’s called "Forearm Tendonitis". So, 4 games in second round i mostly played with my left hand. Hey, it’s pretty good. I can used my left hand properly and made some points πŸ˜› But still, I was only able to make strike with my right hand (painfully … πŸ™ ) I force to continue playing  with my right arm although it’s not a good thing to do. I was enjoying the game, what else can i say πŸ˜›

In most cases, forearm tendonitis can be cured without the need to see a doctor. All i need to do before it’s getting worse is applying R.I.C.E. treatment as soon as possible. R.I.C.E. treatment is the following:

  1. Rest – rest the forearm.
  2. Ice – apply ice to the forearm for 20 minutes at a time.
  3. Compression – apply light pressure to the forearm.
  4. Elevation – elevating the forarm will help reduce pain

 

Well, it’s abvious that my phisical strength is now questionable hehehehhe πŸ˜› I hope I don’t need to cancel my yoga class because of this πŸ˜›

 

 

Tragedia Aremania

Rabu kemarin adalah hari pertama saya main futsal di tahun 2008 ini. Yah hitung-hitung melaksanakan salah satu resolusi tahun 2008 lah πŸ™‚ Dan seperti yang bisa diduga, walo penampilan fisik masih lumayan bagus, ga kehabisan nafas walau maen full time 2 babak, finishing saya jelek sekali. Dari sekian banyak kesempatan yang probabilitas jadi gol-nya 68%, tidak ada satupun yang sukses πŸ™ Yah, paling ga tim saya menang di pertandingan pertama πŸ˜› Pertandingan kedua minggu depan semoga bisa lebih baik πŸ˜›

Nah, itu intermezonya. Yang saya pingin sampaikan di sini adalah pertandingan 8 besar Liga Indonesia untuk wilayah timur antara Persiwa Wamena vs Arema Malang. Saya sebagai arek Malang (walo dah ga tinggal di Malang lagi) pasti mendukung Arema dong. Aremania gitu lho πŸ™‚ Tapi yang terjadi justru sebuah tontonan murahan yang amat sangat memalukan sekali banget beneran yang ditunjukkan oleh banyak banget oknum Aremania yang hadir di stadion saat itu. Continue reading “Tragedia Aremania”

Tragedi debu

Seperti aku tulis di 2 postingan sebelumnya, sebelum Natal kemarin aku ma Decy maen ke Malaysia. Tepatnya ke KL dan Melaka. Yah backpacking klayapan di 2 kota itu lah. Taking picture, nyobain makanan dan sejenisnya. Di Melaka, D40x Decy bermasalah. Ada bercak di hasil fotonya. Setelah dianalisa ternyata sensornya ada sedikit debu or something. Karena ga bawa blower n Decy males beli blower (lagi) di sana (yang harganya mahal dibanding beli di Indonesia), akhirnya yah mesti sabar2 dengan bercak tersebut.
Begitu pulang, sampe rumah aku diperiksa lagi kemare si Decy kemudian di”tiup-tiup” pake blower, test potret ke media putih gede (termasuk beberapa lembar kertas HVS :P) akhirnya tuh bercak ilang. Kembali kinclong πŸ™‚

Then I got the same nightmare just right before new year 2008. Setelah transfer foto ke HDD sambil mengamati, ternyata beberapa hasil jepretanku (terutama hari terakhir) ada bercaknya juga …. huaaaaaaaaaaaaaaaaa. Beberapa foto di Melaka ada juga bercaknya. Langsung panik. Ambil blower, “sebul-sebul” sampe tangan pegel. Gosok lensa sampe kinclong. Tes jepret beberapa foto, alhamdulillah normal semua hasil jepretan pake 3 lensa yang berbeda.
But wait a minute … there’s something bugging me when viewing the viewfinder. Ada bercak di sana. Yang jelas bukan di sensor seperti punya Decy, tapi lebih ke mirror n focusing screennya. Then I made a very big dumbass mistake.

Setelah diblower beberapa kali bercak di viewfinder ga ilang juga, aku mulai bersihkan pelan2 mirror dengan kain statis (bener namanya itu?) … test, no result. Lap focusing screen, no result. Waktu beli blower dulu, paketnya terdiri dari 1 blower, 1 sikat sedang, 1 kain, 1 botol kecil cairan pembersih, 1 sikat kecil dengan ujung satunya berupa semacam spons/karet lunak. Harusnya saya googling lebih lama n coba pake cotton bud yg lembut instead using “sapu kecil berujung spons” ini. Then it happened. Bukannya viewfinder bersih, tapi malah ada garis abu-abu di sana. Huaaaaaaaa. Saat lensa dilepas, garis abu-abu tadi berubah jadi garis yang lebih tajam. It’s scratched !!!!

My focusing screen was scratched …. langsung lemes + kalut + sebel bla bla bla bla bla ….
Geblek … dodol … mestinya begitu diblower ga ada hasil, saya harus segera bawa ke ahlinya. Tanggal 3 bawa si D40x ke BKP, si Anto bilang focusing screennya positif scratch, mesti diganti. Plus tuh debu brengsek sepertinya nempel di prisma-nya. Jadi aku harus ke Alta karena cuman mereka yg punya stok n sekalian bersihkan prismanya, BKP langsung konfirmasi ke Alta via telpon saat itu juga. Tanggal 5 maen ke Alta. Ama mas di frontdesk kameraku dicek ulang, same conclusion. Sayangnya stok focusing screen D40/D40x sedang habis. Dan mereka lagi nunggu shipment stok berbagai spare-parts Nikon yang sekiranya datang tengah bulan ini.

Jadi aku disarankan untuk telpon lagi sekitar tanggal 14-15 Januari buat konfirmasi. Kalo ada, aku tinggal ke Alta lagi. *Lega*
Well, foto-foto di Malaysia mayan bagus buatku yang notabene cuman pemula di DSLR πŸ˜›


Gedung pas di depan gerbang Petaling Street
lensa kit 18-55 pada f/11
speed:1/160
ISO 100 + Aperture priority + CPL filter


Gedung di seputaran Merdeka Square. Ada bercak di kiri atas + di atas bendera tengah πŸ™
lensa kit 18-55 pada f/22
speed:1/50
ISO 100 + Aperture priority


Well, the twin towers …
lensa kit 18-55 pada f/4
speed:1/4
ISO 200 + manual + Tripod

Jika di Bangkok kemarin saya full menggunakan Sigma 30mm f/1.4 HSM, di Malaysia ini lebih sering menggunakan lensa kit-nya D40x (18-55mm f/3.5-5.6G ED II).  Tapi sempat juga beberapa kali  ganti lensa dengan Sigma dan pake tele Nikkor 55-200mm f/4-5.6 ED VR. Mungkin acara ganti-ganti lensa tanpa memperhatika “sanitasi” lingkungan ini yang membuat viewfinder/prisma Nikon saya kotor.

*Sigh*