Hi, i am Nuri. Just another IT guy working on fintech and telco at Jakarta, Indonesia. While tech stuff became my daily breakfast, i also love to travel around the globe and taking photos also. I DJ on my spare time while dealing with any mess my 9 cats made at home :)
Selepas dari Pondok Daun, mampir sebentar ke kantor PLN dekat rumah Didut untuk menemui seorang blogger AngingMammiri yang terdampar di Semarang sekian lama ๐ Dan Didut selalu kelupaan untuk kontak beliau yang satu ini tiap kali kopdar, walo kopdarnya ada di samping PLN tersebut ๐
Abis ngedrop Didut dan Neng Ocha di rumah masing-masing, kami meneruskan perjalanan kembali ke Jakarta. Hari dah memasuki tanggal 1 Agustus 2010. Beberapa jam ke depan kampung gajah akan melaksanakan hajatan perkawinan Jeng Ina – Mahen di Malang. Sedih juga ga bisa ikutan.
Sampai Indramayu sekitar jam 5 pagi saya sudah ga kuat. Mata ini udah ga bisa diajak kompromi. Berhenti di SPBU untuk isi bbm, guyur kepala dan stretching juga ga ngefek. Akhirnya minta bantua Rara untuk gantian nyetir deh. Giliran saya yang tidur di mobil. Indramayu kan jalannya lurus-lurus ajah ampe bosen (cikampek maksudnya). Jadi ga butuh navigator yang standby juga aman :).
Sekitar satu jam saya kebangun, Rara dah ngeluh kalo dia dah mo giveup juga. Ya udah gantian, saya nyetir lagi sampai Bintaro.
Rekap hasil perjalanan yang menempuh nyaris 2000km ini antara lain:
1. Bemper belakang Rush bagian kanan penyok
Penyok
2. Sendal Camel yang udah menemani saya selama 3 tahun terakhir sampai pada masa pengabdiannya. Solnya dah sobek dan mengelupas, bagian tumit juga mengelupas dan tipis. Ga ada empuk2nya lagi sampai bikin sakit tumit saya kambuh lagi. Ancur deh. Tapi bagaimanapun, sendal ini mantap banget. Beli di Sungei Wang – KL waktu traveling ke sana ma Decy dan nyaris ga pernah ketinggalan dipakai kalo lagi traveling kemana-mana.
Sendal OntaMengelupasMengangaPokok mengelupas n menganga depan belakang kiri kanan deh
Oh iya, saya sendiri nyampe, makan, tidur dan bangun besok paginya. Lanjut ngantor lagi.
Ini transit terakhir perjalanan kembali ke barat dari rangkaian posting 2000km. Melelahkan. Itu emang ga bisa dipungkiri dan tubuh ini sudah menunjukkan tanda-tanda batas kekuatannya. Serangan pertama adalah mengantuk. Di jalan Pati-Kudus-Semarang sempat break sebentar di sebuah SPBU untuk sekedar isi bensin dan makan roti dan ke toilet. Sementara Rara ke toilet, saya yg niatnya ngelurusin punggung doang di ubin putih nan adem dan nyaman malah kesirep. Ketiduran entah berapa lama ๐
Giliran saya ke toilet diputuskan sekalian mandi saja. Toilet super bersih, terang dan luas kaya gini ga akan ditemukan deh di Jakarta. Airnya ga sesegar di Malang pa lagi di Magetan tapi it’s more than enough. Terakhir mandi sebelum kopdar Malang soale ๐
Masuk Semarang sesuai perhitungan sekitar jam 12an. Tujuannya adalah Rumah Neng Ocha yang letaknya dekat Undip Tembalang. Karena ga memperhatikan jalan, akhirnya kami kelewat pintu tolรย yang disarankan. Mungkin insting hehehehe jadi kami terus-terus ajah nyusurin kaligawe trus lho kok Raden Patah (lebaran kemarin sempat narsis poto-poto di sini), Jalan Pemuda nah sampai ketemu lagi dengan Tugu Muda dan Lawang Sewu. (Tahun kemarin sempat “nyasar” dari sini, tapi nyasar di Semarang itu enak karena tata kotanya membantu finding way out easily :P)
Ini beberapa foto yang sempat kami ambil waktu roadtrip kembali ke Jakarta setelah mudik lebarang 2009 lalu. Lokasi seputaran Raden Patah dan Lawang Sewu ๐
Rara di Kota TuaBukan gaya, pas lagi mbetulin kacamata eh dijepret Rara. Lho kok berima?Rara di Lawang SewuSemarang gerah
Untuk mencegah nyasar Semarang part-2, si Rara telpon-telponan dengan Neng Ocha yang memandu kita dengan Selamat sampai Undip. Wow, Neng Ocha ini ternyata juragan kos lho sodara-sodara. Mantap. Masih muda dah jadi pengusaha. Ga kebayang deh masih kuliah, harus sambil ngurusรย *keinget si Rendy jadinya*.
FYI, she’s taken, jadi kalian silakan gigit-gigit pintu ajah wek.
Sampai rumah Neng Ocha beneran deh saya langsung nggletak tidur. Sementara ibu-ibu (Neng Ocha + Rara) sepertinya asyik menggosip dan ketawa-ketawa ria ๐
Selepas maghrib kita Neng Ocha, Rara dan saya mulai bergerak menjemput Didut dan pasangan (^_^) terus lanjut kopdar dengan blogger-blogger loenpia di Pondok Daun. Pas lapar pas kopdar di tempat makan, pas deh semuanya. Sampe sana sih sempat bingung mesti nyobain apa ajah saking banyaknya menu. Yang jelas mo kalap otak-otak tapi cuman kebagian 20 bungkus sharing.
Next time ke Semarang mesti konsentrasi wisata kuliner yang baik dan benar nih ^_^.
Thanks to Loenpia!
Kuahnya agak terlalu manis kaya tongseng solo. Ini apa yah namanya?Didut dah gede masih ngempeng ^_^Munif ngeliatin Didut ngempengStella yang Metal!!!Nining konsentrasi ngaduk2 mie pangsitnyaAfiq & Mizan serius memperhatikan kali ajah mie yg diaduk Nining jadi steakHet LotobFoto Keluarga & Tragedi Slam *perhatikan wajahnya sodara-sodara*
T-Cash atau Telkomsel Cash adalah suatu layanan yang memungkinkan pelanggan untuk menggunakan mobile phone-nya (MSISDN) melakukan transaksi seperti pembelian,รย pembayaran, dan lain sebagainya. Layanan baru ini dapat dinikmati melalui dua cara, yaitu secara offline atau secara online. Secara offline, pelanggan dapat menggunakan kartu yang berisi sejumlah nilai uang, yang bisa digunakan untuk melakukan transaksi pada merchant-merchant yang telah bekerja sama dengan Telkomsel. Secara online, layanan ini dapat dinikmati melalui USSD, SMS.
(http://www.telkomsel.com/web/tcash)
Singkatnya, T-Cash ini adalah layanan mobile wallet atau electronic money. Di asia, layanan serupa banyak di-implementasikan di Jepang, Hongkong, Filipina. Cuman kalo di Jepang mungkin menggunaan RFID yang either “ditanam” di simcard atau di ponselnya, Telkomsel menggunakan teknologi yang sudah ada dan dikenal masyarakat yaitu SMS dan USSD. T-Cash sendiri mulai diperkenalkan ke pasar Indonesia oleh Telkomsel sekitar tahun 2007 lalu.
So, what’s new from T-Cash?
Artikel berikut ini diambil dari hotnews internal Telkomsel.
Kini bertransaksi lewat T-Cash menjadi lebih mudah dan cepat berkat inovasi baru, yakni Tap & Go. T-Cash Tap & Go memungkinkan kita untuk melakukan pembayaran via ponsel dengan cara menempelkan (tap) ponsel kita (yang sudah terdapat kartu T-Cash Tap & Go di dalamnya) ke reader/ EDC kartuyang ada di merchant, sehingga proses pembayarannya mirip bar code scanning oleh kasir di sejumlah supermarket.
T-Cash Tap & Go sendiri sebenarnya merupakan SIMcard yang memiliki fitur tambahan, yang memungkinkan transaksi pembayaran dan pengisian ulang pada merchant T-Cash Tap & Go. Dengan kartu ini, kita tetap dapat menggunakannya untuk berbagai fungsi normal, seperti: voice call, SMS, MMS, internet (browsing, chatting, facebook, dsb). Saat ini TCASH Tap & Go ada di fase trial yang ditujukan kepada pelanggan yang berlokasi di Bintaro dan sekitarnya. Tujuan dari trial ini adalah untuk mendapatkan saran dan masukan mengenai teknologi baru ini sebelum di pasarkan.
Kartu T-Cash Tap & Go dapat digunakan oleh tipe atau merk ponsel apapun. Layaknya SIMcard pada umumnya, untuk dapat menggunakan kartu ini maka kita harus memasukkannya ke dalam slot SIMcard pada ponsel kita.
Pelanggan tidak dikenakan biaya apapun untuk bertransaksi dengan T-Cash Tap & Go. Batasan maksimal saldo kartu adalah Rp 1.000.000 (sesuai ketentuan Bank Indonesia) dan tidak ada batas minimal saldo, sehingga kita dapat melakukan transaksi sampai saldo nol.
Dengan menggunakan kartu T-Cash Tap & Go, kita dapat menikmati fitur-fitur sebagai berikut:
Transaksi pembayaran
Isi uang elektronik, dengan minimum top up sebesar Rp 50.000.
Cek saldo
Mengecek history transaksi
Mengecek berhasil atau tidaknya sebuah transaksi yang telah dilakukan
Ganti PIN kartu T-Cash Tap & Go
Partisipan T-Cash Tap & Go sudah dapat bertransaksi di sejumlah merchant sebagai berikut:
Nama Merchant
Lokasi
Solaria
Pdk Indah Mall, Bintaro Plaza
Excelso
Cilandak Town Square
Pizza Hut
Bintaro Plaza dan Jl. Veteran Deplu, Pdk Indah Plaza
Sabtu Jam 2 pagi, saya dan Rara berangkat meninggalkan Malang. Sedih sih rasanya, ketemu adik-adik dan orang tua cuman beberapa jam tapi kemudian dah harus balik lagi meninggalkan mereka. Tujuan berikutnya adalah menyusur pantura menuju Semarang.
Perjalanan Malang – Semarang ini menurut Google Map akan menempuh waktu 7 – 7.5 jam tergantung rute. Hitungan-hitungan saya dengan menambahkan variabel pitstop meluruskan badan dan sarapan, saya akan masuk Semarang setelah 8-9 jam perjalanan. Rute yang diambil adalah via Tol Gresik – Lamongan – Tuban – Kragan – Rembang terus sampai Semarang.
Google Map Malang - Semarang
Malang sampai keluar Gresik sangat-sangat lancar. Memasuki Lamongan, perjalanan mulai melambat. Hal ini dikarenakan banyak jalur utama di Lamongan yang sedang diperbaiki secara besar-besaran. Sehingga hanya satu lajur saja yang bisa digunakan.
Kami memasuki Tuban selepas subuh langsung disambut aroma laut yang khas. Saya langsung membangunkan navigator yang asik tidur kelelahan karena roadtrip ini. Langsung heboh deh dengan pemandangan pantai yang emang keren sekali. Langit biru, laut biru dipadu dengan daerah seberangnya yang hijau. Sungguh menentramkan.
Foto-foto di bawah ini diambil oleh Rara yang mendadak segar kembali setelah lihat laut (setelah itu sih balik molor)
Gerbang Batas Propinsi Jawa Timur - Jawa TengahSawah hijau di seberang lautLaut Biru Langit Biru
Nah rute Tuban – Rembang ini teman-teman kita adalah truk dengan berbagai ukuran dan berbagai macam muatan. Kembali berusuran dengan ikan paus dan kuda nil (istilah saya untuk kendaraan besar yang udah ngabisin jalan, atau kalo ga jalan super lemot tapi selalu ambil kanan). Belum lagi dengan angkutan seperti foto di bawah ini mereka ugal-ugalan maen salip. Ngeri sendiri.
Excess BagageRace of the Titans
Sungguh deh, kalo kamu sempat melewati jalur pantura antara Tuban – Rembang saya saranin banget n banget untuk pilih waktu yang pas. Idealnya sih abis subuh langsung menyusuri rute ini. Kamu ga akan kecewa dengan pemandangan yang menghiasi sepanjang perjalanan. Pa lagi jam segitu buat yang hobi motret masih dapat golden light.
Pemandangan Tuban - Rembang
Sempatkan berhenti di berbagai spot dan siapin tripod kalo perlu.
Karena ga bisa menahan godaan untuk menikmati keindahan pemandangan walau hanya sebentar, kami akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak. Sekalian memberi waktu si Rush hitam untuk istirahat juga :). Berikut ini foto-foto yang sempat saya ambil pake ixus 870. Ga sempat keluarin D90 karena terkubur bersama barang-barang lain di bagasi.
Kamis malam jam 10 berangkat dari Magetan. Rutenya dari dusun Babadan ngikutin jalan ke arah Gorang Gareng (ya namanya unik) – Takeran. Buset ini jalan lempeng lurussss tapi juga sueeepiiii. Kiri kanan cuman ada sawah ma kebon tebu saja. Tapi setelah sekitar 30 menit tahu-tahu dah menyusuri tanggul bengawan รย di Madiun. Keluar Madiun masuk jalur tengah jawa timur yang menghubungkan Madiun – Nganjuk – Jombang – Mojokerto.
Jalur ini termasuk death route. Karena kecil, isinya banyakan bus dan truk. Bus dengan nyetir ala game GTA, truk dengan speed saingan ma bekicot. Dan akhirnya meninggalkan kita yang pakai kendaraan pribadi sebagai kasta terakhir. And I told you, being reckless here is รย suicide. Karena kepingin buru-buru lepas dari jalur ini saya nyaris ajah kecelakaan. Posisi mobil sudah terjepit ditengah, di kiri ada truk super lemot segede paus yg ngabisin sisi kanan lajur, dari depan ada truk bagong yang sedang speeding. Cuman bisa ngerem habis berharap truk lemot sebelah kiri segera berlalu supaya bisa ambil ruang di belakangnya. But it never happened. Akhirnya truk dari depan sedikit banting kiri untuk menghindari impact tepat pada saat ekor truk lemot di sisi kiri saya berlalu.
Phew ….
30-07-2010
Sampai Singosari – Malang jam 2 pagi lebih dikit disambut Budi yang langsung balik ke Malang setelah pemakaman nenek sebelumnya.
Karena ragu-ragu mo beli makan apa ga semenjak dari Lawang, akhirnya saya malah ga nemu warung lagi yang masih buka sampai rumah. Blah ๐ Ya udah, nyampai langsung tidur deh.
Acara pagi mestinya mo ngantar Budi n Didik survey ke dealer-dealer motor. Yah kebetulan saya ada rejeki, jadi mo beliin (baca: kriditin) 2 adik cowok saya ini sebuah motor. Cuman karena sesuatu hal ga jadi, mereka malah asyik maen PS sementara saya dan Rara ke kota untuk kopdar dengan teman-teman dari BloggerNgalam, milis id-gmail yg juga hybrid รย di id-anime.
Saya lebih konsen makan dan minum, sementara Rara aktif berdikusi dengan teman-teman blogger. Luwe rek …
Kopdar Malang di Cafe Illy, fasilitator sandynata.wordpress.comKopdar Malang di Cafe Illy, fasilitator sandynata.wordpress.com
Selepas kopdar menyempatkan diri dulu bungkus 8 porsi (yup, 8 porsi) bakso “Solo” yang ada di blimbing. Orang rumah pada mo bakso soale. Kemudian mampir ke Riverside untuk ketemu dengan Jeng Dian Ina yang Minggu tanggal 1 nya akan melangsungkan pernikahan dengan denmas Purwa Mahendra ๐ Ngobrol ma Jeng Ina itu emang ga ada abisnya. Hehehehehe, dah lewat jam 10 ajah padahal jam 2 pagi nanti dah harus roadtrip lagi balik ke Jakarta.
Biyuh, minggu yang melelahkan dan banyak kenangan.
Hari pertama di Magetan cuma tidur sampai menjelang dhuhur (nyetir 15 jam itu cuapek banget jendral), maem siang trus turun ke kali tempat saya sering main waktu kecil dulu. Batu gunung segede kebo yang dulu ada di sisi jalan sudah ga ada. Hutan bambu juga mulai berkurang kayanya karena banyak yang ditebang baru-baru ini.
Sampai di bawah, sungai yang dulu tempat saya maen waktu kecil, ngadem kalo pas kepanasan siang-siang, nyari ikan wader ma udang baru (mayan buat lauk makan) masih mengalir kencang. Ga sejernih dulu, sepertinya di hulu ada bagian yang berpasir/berlumpur. Jembatan yang menghubungkan 2 bukit dan 2 desa sudah berganti dengan jembatan beton yang kokoh.
Sungai itu masih mengalir seperti dulukucel-kucel tetap narsis ๐Ubi jalar, kacang tanah, kol
Sayang hamparan sawahnya banyak beralih fungsi ditanamin tumbuhan lain. Entah karena musim tanam padi sudah lewat sehingga diganti umbi-umbian, kacang dan jagung. Atau memang bertanam padi sudah sebegitu kecil profitnya sehingga para petani mencoba peruntungan dengan menanam tumbuhan lain.
Sisi selatan sungai, dusun GandonSisi utara sungai, rumah almarhum nenek pas di ujung jalan
Pas berlibur ke rumah almarhum nenek, saya ma teman-teman sekampung dulu suka kejar-kejaran dari ujung utara ke ujung selatan. Abis itu kalau capek ya numpang nggletak di gubuk yang ada di sawah, atau kalo ga ya kungkum di kali.
Bunga liar di ujung jembatanBunga liar di ujung jembatanLangit di Ujung Bukit, cuman modal ixus not a good shot
Suasana segar pedesaan yang belum banyak terjamah bangunan beton, masih banyak tumbuhan, sungguh menyegarkan fisik maupun pikiran.
Setelah puas lihat-lihat sawah dan sungai, saya mesti jadi sopir. Mengantarkan adik , paman n para bibi ke pasar untuk mencari bahan-bahan keperluan tahlilan untuk 5 hari ke depan. Jadilah ber-6 agak berdesakan di Rush yg mestinya isinya cuman buat 5 orang ^_^.
Sementara yang lain belanja di pasar, saya mengantarkan Rara jalan menyusuri bagian depan pasar. Pasar sayur ini ga terlintas keluar dari ingatan saya. Saya masih rancu dengan pasar baru yang letaknya di dekat alun-alun Kota Magetan. Entahlah. Seingat saya dulu banget pernah ikut almarhum nenek jualan beras, ada lapak yang cuman terbuat dari lantai semen di mana pedagang bisa gelar dagangannya di situ. I dont know which one it was …
Di depan pasar ada penjual bakso dan kami tergoda untuk mencicipinya (Rara sih, bukan saya). Jadilah order semangkok (yang kemudian nambah semangkok lagi). Plus 2 gelas es degan (kelapa muda). Karena dah sore, menunya tinggal dikit. Tapi rasanya tetap mak nyuzzz
Bakso depan Pasar Sayur MagetanOnline di Pasar
Kebetulan sinyal Telkomsel Flash dan IM2 Broom di depan pasar ini cukup bagus. Jadi pas hari kedua kami ke pasar lagi, saya masih sempat buka Mac, VPN ke kantor dan remote beberapa pekerjaan. Jadilah saya diketawain Rara (yang kembali makan bakso itu lagi) karena setelah sadar saya ternyata udah dikerumuni beberapa anak SD yang baru pulang sekolah yang mungkin belum pernah lihat orang buka-buka laptop di pasar ๐
Para bibi menawar harga, sementara adik memeriksa daftar belanjaan
Oh iya, sempat memperhatikan ibu ini dan ambil beberapa fotonya. Sendirian beliau membawa segitu banyak besek (kotak dari anyaman bambu) untuk dijajakan di pasar.
Melihat ini jadi miris dan trenyuh rasanya. Teringat almarhum nenek, cuman bisa membuat menitikkan air mata. Sementara di Jakarta para anggota dewan keparat itu sibuk hambur-hamburkan duit untuk kegiatan yang ga banyak guna, di sini orang-orang struggle untuk memenuhi kebutuhan hidup yang mungkin ga seberapa.
Cih.
Mobil Cetul di Pasar Sayur - Hari Pertama
Kami dulu menyebutnya mobil cetul (e dibaca seperti di echo atau gawe). Entah mobil di atas isinya apa,yang jelas roda belakang sampai sebegitunya.
Mitsubishi rules!!!
Mitsubishi memang jaminan sebagai kendaraan angkut yang handal. Mobil-mobil di pasar ini saya perhatikan di atas 90% menggunakan merek pabrikan Jepang dengan lambang 3 berlian ini.
Selepas dari pasar kembali ke rumah untuk persiapan tahlilan. Selesai tahlilan saya sempat mengantar pulang dulu sepupu dan putranya yang lucu ini.
Mas DimasMas Dimas
Jam 10 malam saya, rara bersama 2 adik saya (yuli n didik) plus agus (sepupu) berangkat ke Malang. Tujuannya sih ngantar mereka pulang ke Malang plus supaya saya punya spare waktu istirahat karena setelahnya harus kembali menyusuri pantura untuk kembali ke Jakarta.
Selamat tinggal Magetan. Selamat jalan Mbah Suliatun, semoga amal ibadahmu akan mendapat pahala yang setimpal dan dapat beristirahat dengan tenang di sisi Allah SWT.
Stasiun Sudimara ini letaknya lumayan juga dari rumah, mungkin sekitar 5km. Karena malas bawa kendaraan (driving a car in Jakarta during rush hour is nightmare, exhausting) saya lebih suka menumpang kereta AC Ciujung atau Sudirman Express dari sini. Stop point-nya Stasiun Palmerah.
Rangkaian kereta barang di Stasiun Sudimara (peron 2)
Dari Stasiun Palmerah tinggal lanjut ojek ke kantor di bilangan kuningan. Atau kalo lagi banyak barengannya ya saweran naik taksi ๐
Kursi yang digunakan untuk penumpang naik dari arah peron 1 ke kereta di peron 2
Sepertinya saya perlu beli motor nih untuk pp rumah – Sudimara biar lebih efektif n efisien. Ojek dari depan kompleks rumah suka lemot. Rata-rata rumah – sudimara 15 menit, padahal jarak cuman 4km.