Nyaris lupa waktu di Fushimi Inari, kami memutuskan untuk mengunjungi Kuil Toji. Kuil ini didirikan tidak lama setelah ibukota kekaisaran pindah ke Kyoto di akhir tahun 700an. Letak kuil ini cukup dekat dari Kyoto Station, sekitar 15 menit jalan kaki. Kalau naik kereta cukup 2 menit menggunakan Kintetsu Kyoto Line turun di stasiun Toji. Cuman 1 stop dari Kyoto Station 🙂
Kyoto Station
Turun di Toji Station
Kolonel Sanders dengan seragam Kyoto Sanga FC 😛
Umm, ga semua tertib lalu lintas juga kok. Tapi jarang banget yg kelakuan kaya gini 🙂
Seperti Kinkaku-ji, kuil ini juga mengalami sejarah yang cukup menyedihkan. Sekitar tahu 1486, kompleks kuil ini mengalami kebakaran hebat. Banyak bangunan yang terbakar. Bangunan utama kuil Toji yang disebut sebagai Aula Kondo adalah salah satu yang terbakar. Namun bangunan ini direkonstruksi ulang pada jaman Edo (1603 – 1867). Tepat di samping Aula Kondo terdapat Kodo Hall yang didirikan oleh Kobo Daishi tahun 825.
Deretan torii (gerbang) merah yang mengular di lereng Gunung Inari seakan sudah menjadi ikon kota Kyoto. Susunannnya yang rapi serta warnanya yang merah mentereng memberikan kepuasan visual tersendiri bagi para pengunjung dan membuat mereka lupa kalau butuh kurang lebih 2.5 jam untuk menyusuri jalur torii merah ini. Susunan torii merah ini hanya ada di Kyoto, tidak ada di tempat lain di Jepang apalagi di dunia.
antrian panjang bis di Kyoto Station
tiket JR Nara line ke Fushimi
Romon Gate, sumbangan Toyotomi Hideyoshi
Sebelum masuk kuil, ritualnya adalah membasuh tangan, muka dan berkumur. Airnya dingin banget
Ra, itu gayung bukan pemukul kentongan yah
Kitsune, hewan suci pembawa pesan Dewa Inari
Kitsune
wish lish
seorang pengunjung sedang berdoa
another form of kitsune
and the famous red torii
Kuil Fushimi Inari ini jauh lebih tua umurnya dari Kyoto sendiri lho. Keduanya menjadi bagian sejarah yang tak terpisahkan. Ibukota Jepang pindah ke Kyoto kurang lebih tahun 794. Sementara Fushimi Inari Taisha dibangun sekitar tahun 711.
Kuil ini didirikan untuk memuja dewa Inari, dewa padi di agama Shinto. Dan di area gunung ini kamu akan banyak menemukan patung rubah. Rubah (kitsune) dianggap sebagai hewan suci karena dia adalah utusan pembawa pesan dari Dewa Inari.
mau mencoba lari ala adegan Memoirs of Geisha? 🙂
Tiap torii yang ada adalah sumbangan dari para dermawan ataupun pedagang karena Dewa Inari juga dipandang sebagai pelindung bisnis/perdagangan serta pertanian. Makanya di setiap torii ini kita akan menjumpai nama si penyumbang dan jenis usahanya (kalo bisa baca huruf kanji yah :P)
Di bagian paling depan kompleks kuil ini berdiri sebuah gerbang yang disebut sebagai Gerbang Romon. gerbang ini adalah sumbangan dari Toyotomi Hideyoshi pada tahun 1589. Yang belum tahu Hideyoshi silakan baca novel sejarah Taiko Ki-nya Eiji Yoshikawa yah 🙂
Romon Gate, sumbangan Toyotomi Hideyoshi
Fushimi Inari juga semakin dikenal luas karena dijadikan salah satu lokasi adegan film Memoirs of a Geisha yang dibintangi oleh Michelle Yeoh, Ken Watanabe dan Zhang Ziyi.
Di luar kompleks kuil berjajar deretan toko suvenir maupun warung/rumah makan dengan beraneka ragam menu. Jadi jangan kuatir kalo ingin makan atau mencari oleh-oleh.
Ah satu lagi, Fushimi Inari Taisha ini buka 24 jam dan tidak ada biaya masuknya tidak seperti kuil-kuil lain yang mengenakan biaya masuk antara JPY 500 – JPY 800/orang. Cuman suasananya agak-agak gimana gitu kalo kita kelayapan menyusuri deretan torii merah itu selepas matahari terbenam 😛
Penjual Takoyaki
Penjual Taiyaki
Potongan tako yang besar-besar *nyamm* di sini takonya banci, seiprit-iprit
500 yen isi 7
antrian panjang di kedai Taiyaki
makan ini langsung kenyang, enough for lunch 😛
hasil ngantri di kios Taiyaki, ga standar nih isi es krim 😛
itadakimasu….
doyan ama lapar itu emang beda tipis 😛
need souvenirs?
Taiyaki standar isi kacang merah
Hello Kittu everywhere
Salah satu sudut jalanan di Fushimi
Reflection
Convenient Store pas di samping statisun
Keluar stasiun langsung menghadap ke Romon Gate-nya Fushimi Inari Taisha
difotoin seorang bapak Jepang yang baik hari di seberang stasiun
Kalau kemarin kami mengunjungi Pavilion Perak, hari ini kami mengunjungi Pavilion Emas, Kinkaku-ji.
Nama resmi kuil ini adalah Rokuonji, awalnya merupakan tempat peristirahatan shogun Ashikaga Yoshimitsu. Berdasarkan wasiatnya saat meninggal sekitar tahun 1408, pavilion ini kemudian diubah menjadi kuil Zen aliran Rinzai.
Kinkaku-ji sendiri adalah bangunan yang indah berbalut warna emas. Tampak kokoh menghadap kolam yang tenang di depannya. Dan yang mungkin menyedihkan, Kinkaku-ji adalah satu-satunya bangunan asli yang masih berdiri dari kompleks peristirahatan Yoshimitsu. Selain karena bencana, kompleks kuil inipun telah berkali-kali hancur akibat perang. Yang mungkin paling di kenal adalah saat Perang Onin yang menghancurkan sebagain besar Kyoto saat itu. Dan yang terakhir sekitar tahun 1955 saat Kinkaku-ji dibakar oleh biarawan muda bernama Hayashi Yoken.
Kinkaku-ji in a postcard 1950. Courtesy of harwelldesu.comKinkaku-ji setelah dibakar tahun 1950 -wikipedia-
Pemerintah Jepang membutuhkan waktu hampir 5 tahun untuk menyelesaikan restorasi Kinkaku-ji. Pada tahun 1955, The Golden Pavilion pun dapat kembali mewujud seperti bentuknya saat ini.
Bangunan utama Kinkaku-ji terdiri dari 3 lantai yang dibangun dengan gaya yang berbeda. Pada postingan sebelumnya saya menuliskan kalau Kinkakuji merupakan poros budaya Kitayama. Pada jaman Yoshimitsu, budaya ini lebih berkembang di lingkaran kalangan elite/borjuis Kyoto saat itu.
Lantai 1 dibangun dengan gaya Shinden yang biasa digunakan untuk membangun istana pada Jaman Heian (yak, yang ngikutin Shanou Yoshitsune pasti kenal jaman ini :P). Ciri khasnya adalah pilar-pilar kayu natural dengan tembok putih. Bangunan lantai dasar ini nampak kontras sekali dengan 2 lantai di atasnya yang berlapis warna emas. Lantai 2 bergaya Bukke yang biasa terdapat di rumah-rumah samurai. Lantai 3 bergaya aula Zen China.
Ada berbagai patung di setiap lantainya. Sayangnya Kinkaku-ji rupanya tidak terbuka buat umum (paling ngga hari itu) jadi kami tidak bisa melihat-lihat isi dalamnya. Di lantai 1 ada patung shogun Yoshimitsu dan Shaka Buddha (sejarah Buddha). Di lantai 2 terdapat patung Kannon Bodhisattva yang dikelilingi oleh 4 Raja Langit.
Saya cuman bisa bengong. Melihat obyek sejarah dengan mata kepala sendiri itu memang beda…
Perlu diingat, kompleks kuil ini gede banget lho 🙂 Walau bangunan asli hanya tersisa satu, tapi taman yang berada di dekat Kinkaku-ji ini adalah taman yang sama sejak jaman Yoshimitsu dulu. Paling ga desain tamannya tidak pernah diubah.
Wow!
Banyak spot-spot menarik di taman ini. Salah satunya adalah kolam Anmintaku yang katanya tidak akan pernah kering, juga ada semacam patung tempat orang melemparkan koin keberuntungan.
Duh suasananya yang tenang, damai kayanya membuat saya pingin menghabiskan umur di sini deh 🙂
Di ujung taman kita akan menjumpai toko suvenir kecil, kemudian Tea Garden. Cukup rogoh kocek JPY 500 buat menikmati matcha atau jajanan lainnya di taman ini 😛 Dan terakhir adalah Fudo Hall, kuil kecil tempat patung Fudo Myoo diletakkan. Di sini kamu juga bisa membeli ramalan dari kotak-kotak merah seperti foto berikut. Modalnya cukup 1 koin JPY 100 saja. Kalau ramalannya bagus, kertasnya bisa kamu bawa pulang. Kalau tidak bagus, bisa diikat di tempat yang telah disediakan di dekat kuil.
Jangan kuatir, ada yang versi romanji berbahasa inggris kok 🙂
Salah satu alasan mengapa saya lebih suka menghabiskan waktu di satu tempat dari pada lompat dari satu kota ke kota lain adalah i lost track of time. Cuaca hari itu cerah sekali walau anginnya cukup dingin. Dan ga berasa kami sudah lebih dari setengah hari menghabiskan waktu di Kinkaku-ji saja.
Tujuan berikutnya adalah Kyoto Manga Museum. Saya hampir ga sempat memotret di Manga Museum. Yah selain didalam museum emang ga boleh motret, kami heboh sendiri dengan koleksi manga di gedung 3 lantai ini yang buanyak banget. Manga tertua yang saya temui diterbitkan sekitar akhir tahun 40an lho. Ada juga Manga alih bahasa dari negara lain termasuk Doraemon versi Bahasa Indonesia.
Dan betapa bahagianya sewaktu di sini saya menemukan Danbo edisi baru yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Edisi Calbee 🙂
Welcome to the family
Sehabis dari Manga Museum, kami blusukan di Kawaramachi untuk mencari makan malam. Ga sengaja nemu warung sushi, ya udah kami langsung masuk saja. Tau-tau sudah 16 apa 17 piring sushi tergeletak di meja 😛 Ahahahaha, ternyata warung yang bernama Sushi no Mushashi ini masuk rekomendasi TripAdvisory juga lho. Harganya juga terjangkau (masih mahalan sushi-tei or sushigroove btw :P)
Hari ke-3 ini kami mengunjungi salah satu kuil tujuan utama wisatawan Kyoto. Namanya Ginkakuji, Paviliun Perak.
Mengapa dinamakan demikian?
Ginkakuji adalah sebuah kuil Zen yang berada di sebelah timur Kyoto -daerah Higashiyama-. Shogun Ashikaga (1435-1490) mendirikan paviliun peristirahatan untuk masa pensiunnya di daerah ini pada tahun 1482. Paviliun tersebut terinspirasi oleh Kinkakuji (Paviliun Emas, di daerah Kitayama) yang dibangun oleh kakeknya sendiri. Namun sepeninggal Yoshimasa pada tahun 1490, paviliun itupun kemudian diubah menjadi sebuah kuil Zen.
Langit Kyoto begitu cerah pagi itu
Pemandangan dari Roku Bis #100
Jalanan daerah Higashiyama
Snow is coming
Rara and her first snow shower ever 🙂
Hmm, that’s not too good
Sama halnya dengan Kinkakuji yang berada di daerah utara Kyoto, Ginkakuji di timur juga menjadi pusat kebudayaan pada saat itu. Bedanya adalah kalau di Kinkakuji budayanya lebih terbatas untuk kalangan elit, aristrokat/pejabat. Sementara itu budaya Ginkakuji justru lebih membumi dan mempunyai peran yang luas pada budaya Jepang sendiri kala itu. Keseian yang ada saat itu makin berkembang mulai dari arsitektur, puisi, teater hingga upacara minum teh.
Walaupun dikenal orang dengan nama Ginkakuji, nama kuilnya sendiri aslinya adalah Jisho-in (kemudian diubah menjadi Jisho-ji). Berbeda dengan Kinkakuji yang memang bernuansa emas, kamu bisa dibilang ga akan menemukan sesuatu berwarna perak yang cukup signifikan biar nyambung dengan julukan Vila Perak Ginkakuji 🙂 Shogun Ashikaga dulu sepertinya memang berniat melapisi paviliun ini dengan warna perak, namun sayang keinginan tersebut sepertinya tidak pernah terlaksana.
Ginkakuji, The Silver Pavillion… eh mana warna peraknya?
taken using LG-G2
taken using LG-G2
taken using LG-G2
taken using LG-G2
taken using LG-G2
taken using LG-G2
taken using LG-G2
Ginkakuji, The Silver Pavillion… eh mana warna peraknya?
taken using LG-G2
taken using LG-G2
taken using LG-G2
taken using LG-G2
taken using LG-G2
sangat rapi dan detil, gila emang…
Hamparan pasir putih di depan Rara pada foto di bawah ini adalah tipikal Zen Garden yang tertata indah dengan pola pasir yang rapi. Taman pasir ini disebut sebagai “Sea of Silver Sand“, lautan pasir putih.
Rara, still excited playing with the snow
Nah sedangkan tonggak di bawah ini (bentuknya mirip tumpeng/cone dengan ujung atas dipotong :P) disebut sebagai Moon Viewing Platform, tempat memandang bulan.
Moon Viewing Platform
Nah kalau kalian berkesempatan berkunjung ke sini di cuaca yang tepat, maka cukup dengan berjalan kaki kamu dapat menikmati berbagai situs sejarah dan pemandangan yang spektakuler.
Di mulai dari bagian paling atas dimana Kuil Ginkakuji terletak, kamu bisa menyusuri Shirakawa Sosui Dori. Sekedar window shoping atau sekedar mencari camilan/makan siang. Setelah itu dilanjutkan berjalan kaki menyusuri Philosopher’s Path atau kadang disebut juga sebagai Philosopher’s Walk.
Dingin-dingin maem udon anget… surga dunia 🙂
the 2 towers? 😛
Warung Macha
Tiada yang nikmat selain satu cup Macha hangat di udara yang dingin
Philospher’s Path
Kalo ga kuat jalan tapi duit berlebih bisa naik becak kok 🙂
Haus? Dont worry
Penunggu kafe
Danbo menunjukkan beberapa pohon sakura yang sudah berbunga
Sakura 🙂
Sakura 🙂
Sakura 🙂
watching out area
Philosopher’s Path atau Tetsugaku-no-michi adalah sebuah jalanan kecil yang membentang menyusuri sungai dari Ginkakuji turun hingga ke Kuil Nanzen-ji yang kompleksnya guede banget serta Eikan-do Zenrin-ji yang lebih kecil. Tapi jangan salah, pemandangan sepanjang pinggir sungai ini emang indah. Apalagi kalo pas musim sakura mekar atau menjelang musim gugur nanti. Di sepanjang jalur ini banyak vending machine, toko/kafe kecil dan juga kuil-kuil kecil.
Wahhh, jadi pingin ke Kyoto lagi.
Saya sudah menyinggung soal “cuaca yang tepat” kan sebelumnya? Saya bilang begitu karena seharian ini kami bisa dibilang kenyang makan salju. Begitu tiba di Ginkakuji disambut hujan salju yang cukup deras, untungnya tidak lama. Yah stop-and-go sih saljunya. Alhamdulillah selama jalan kaki menyusuri Philosopher’s Path cerah sekali. Tapi begitu di Eikan-do cuaca mulai meredup. Kami tidak bisa berlama-lama di sana dan memutuskan untuk segera pergi begitu langit makin gelap dan salju mulai turun lagi.
X100s
LG G2
LG G2
LG G2
X100s
Another beautiful Zen Garden. My LG G2 snap a ray of light
even Danbo feel amazed….
LG G2
X100s
X100s
X100s
X100s
X100s
X100s
X100s
badai salju skala mini yang baru saja mulai 🙂
Kali ini ga sekedar showering tapi bonus angin. Jadilah kami sedikit merasakan badai salju level 1 di Jepang. Payung (cuman 1, dituker orang pula) dah beralih fungsi jadi perisai. Setelah lumayan lama mencari rute ke jalan raya (sambil berusaha menjaga agar iPad tidak basah) + menggigil kedinginan akhirnya kami menemukan halte bus.
Niat sebelumnya ingin mengunjungi Kiyomizu-dera serta klayapan di Higashiyama. Tapi kami memutuskan untuk sementara cukup sudah bermain salju hari itu. Jadi rute selanjutnya maen ke ‘kota’ saja. Haripun beranjak gelap saat kami turun di Gion.
Waaa, wajah lain Kyoto saat menyusuri Shijo-Kawaramachi. Di ujung Shijo ada bangunan kuno mentereng, Yasaka Shrine dan kompleks kuil yang sangat besar. Saya tau di sana ada Kodai-ji, Kuil Chorakuji tapi entah apa lagi di dalamnya. Sementara itu sepenjang mata memandang dari gerbang Yasaka ke depan yang ada adalah deretan toko serta mal.
Kontras sekali. Tapi hal ini menunjukkan kalo di Kyoto itu “past and present can get along side-by-side in harmony“.
Langsung deh semangat mau blusukan masuk-masuk dan menyusuri lorong-lorong Gion. Hehehehehe, jadi terbayang Kyoto jaman dulu hasil visualisasi buku-buku Eiji Yoshikawa. Tapi karena Rara sudah ga kuat jalan plus baru berasa kalo kita kelaparan *gara-gara lewat depan tukang takoyaki yang enak banget aromanya- petualangan hari itu kita akhiri dengan berburu makanan khas Kyoto saja.
Gion Corner – LG G2
Gion Corner – LG G2
Gion Corner – LG G2
Gion Corner – LG G2
Gion Corner – LG G2
Gion Corner – LG G2
Gion Corner – LG G2
Gion Corner – LG G2
Finally,found the legendary Issen Yoshuku
This is the famous Okonomiyaki
Cant wait to have the first bite
You’ll never eat alone even when you come alone
This ‘lady’ sat in every table, thus you’ll never feel lonely here 🙂
well, what can i say? 😛
Dan menurut tripadvisory serta Lonely Planet si Rara, rekomendasi tempat makan yang dekat dengan posisi kita saat itu adalah warung Okonomiyaki Isshen Yoshoku. Warung ini cuma menjual 1 menu saja. Seporsi harganya kalau ga salah JPY 650.
Okonomi means “what you like”  and yaki means “grilled” or “cooked”; So, Okonomiyaki means “cook what you like”. In our case it was cabbage, bits of fried batter, eggs and red pickled ginger are mixed with a wheat flour batter and pan fry on a hotplate. The result resembles something like pizza + okonomiyaki sauce and nori.
Rasanya? Totemo oishii desu…
When you’re in Kyoto, you-have-to-try-this-okonomiyaki! Issen Yoshoku is a local legend.
oleh-oleh yang kami beli di Ginkakuji, warabi mochi. Something made with green tea 🙂Yaa, they’re excited to get to know what is inside and how good the taste will beand what the heck are you doing inside, Danbo?!!! You eat the cake already?!!
need info, book a bus, rent mobile device?very nice airportlot of booklet to read in some languages
Setelah terlelap cukup lama di KIX, bangun-bangun kayanya jam 7an 😛 langsung deh cari tempat shower yang kebetulan ada di lounge dekat-dekat situ. Sayangnya dah penuh, kecuali kita mo nunggu 2 jam sampe mereka kelar. Arrrghhh, lom mandi neh seharian.
Ya wis lah, kami memutuskan cuci muka gosok gigi doang di restroom dan langsung mencari bis bandara yang menuju Kyoto. Sebenarnya kalau mau cepat bisa naik kereta Haruka dari T2, tapi harganya bisa JPY 3500++/orang. Sementara kalau naik bisa cuman JPY 2500/orang one way atau JPY 4000 rountrip. Waktu tempuh dengan bis kurang lebih 1.5 jam. Halte busnya ada di exit T1, halte nomor 8
ah iya, Kyoto ini kota yang berhabat buat para pengendara sepeda
Kyoto Tower
Sekitar jam 9:30 an kami tiba di Kyoto. Cuaca saat itu cerah sekali, tapi duinginnnnn bangettt. Tempat pemberhentian bis nya tepat di seberang JR Kyoto Station, di depan Hotel Avanti.
Tujuan selanjutnya adalah mencari Hana Hostel, tempat kami akan tinggal. Lokasinya sih menurut peta ada di balik Kyoto Station, jadilah pagi itu kami -sambil menikmati segarnya udara Kyoto- menjelajah stasiun gede ini. (tepatnya sih rada-rada nyasar nyari jalan ke arah Central Gate :P)
Seperti yang dijelaskan di situs Hana Hostel, it is 5 min walk from JR Kyoto station (if you walk like a Japanese :p) Strategis dan nyaman banget tempatnya. Paket modem sewaan saya sudah tersedia di resepsionis. Walau check in timenya jam 3 sore dan kami datang terlalu awal, kami masih bisa nyantai-nyantai di living room, mandi-mandi, serta nitipin ransel di luggage room yang memang telah disediakan.
Jadi seharian ini saya dan Rara emang ngabisin waktu ngider-ngider seputaran Kyoto Station saja dulu. Tujuan lainnya adalah nyari restoran Kyo-ryori rekomendasi pasien Rara yang dari Jepang.
Apa itu Kyo-ryori?
Kyo-ryori = Kyoto ryori = Masakan Kyoto.
Jadi katanya di Kyoto itu ada 3 makanan yang dianggap “wah” yaitu masakan Perancis, Cina dan Jepang. Di antara ketiganya, Kyo-ryori adalah best of the best karena keindahan penampilannya, cita rasanya yang mantap. And it is.
Setelah gempor naik tangga yang curam banget di Kyoto Station, plus kedinginan karena angin yang cukup kencang, antrian di toilet, akhirnya ketemu juga restoran yang di maksud. Namanya Wakuden. Tampang turis kami yang kayanya bloon banget berusaha nerjemahin huruf kanji tapi helpless big time menarik rasa kasihan sepasang pengunjung Wakuden yang tengah antri. Dengan kemampuan bahasa kami yang pas-pasan (maksudnya saya ma rara jepangnya minus, beliau berdua Inggrisnya juga kurang) akhirnya kami mengerti juga. Jadi restoran akan tutup 30 menit lagi, sementara menu yang paling laris (saya lupa namanya) hanya disajikan 30 porsi saja/hari dan mereka adalah orang ke 30 itu.
Mbak pelayan di dalam juga menjelaskan hal yang sama (aaaaa, kawaii nee-chan ^_^) but that’s ok. Jadi kami memilih menu nomor 2, and we’ll see what we will get. 5 set makanan (plus 1 shot sake) yang enak-enakkkkkkkkkkkkk. Pas bayar ajah yang ga enak 😛 Well it’s worth the money.
hidangan penutup yang juga enak 🙂
long way down
3+1
long way up
Selain Kyoto Station, kami dah nyobain masuk ke Kyoto-Yodobashi. Yah, ini emang mall. Kebetulan saya butuh neck warmer. Dan baru tau kalo selama ini si Rara emang pingin banget punya boot. Kocak liat tampangnya ala Sinchan pas ada sale boot di Yodobashi ^_^. So she got her self a pair of japanese boot yang emang pas dengan dinginnya cuaca saat itu.
Kami juga masuk ke Bic Camera, karena ada teman fotografer yang nitip film kamera hitam putih. Nah buat yang doyan gadget, elektronik, kamera, game saya sangat-sangat menganjurkan kalian untuk jauh-jauh dari 2 tempat ini selama di Kyoto yah 🙂 Saya sih nyantai-nyantai saja karena bukan gadget freak. Hilang akal hampir terjadi beberapa hari kemudian pas ke Yodobashi lagi dan masuk ke lantai 3. Heaven for kid soul in me, hell for my pocket.
Tamiya yang harganya cuman JPY 600, BatMobile versi Dark Knight maupun Bane, berbagai Gundam (yg harganya emang murah bgt), perkakas hobby super lengkap yang ga nemu di sini, arrrghhhhhh.
Udah-udah, get the hell out of there. Dan godaan kembali ke lantai 3 itu emang siksaan secara rute pulang pergi Hana Hostel – Kyoto Station pasti ngelewatin Yodobashi.
Satu hal yang kami sesalkan serta yang baru kami sadari di 2 hari terakhir adalah lokasi Hana Hostel ini ga jauh-jauh amat juga dari spot-spot bersejarah. Kalau mau ngirit waktu dan duit cukup jalan kaki atau nyewa sepeda trus berkeliling ajah seputaran hostel. Lain kali kalau punya rejeki dan kesempatan ke Kyoto lagi, hal ini yang akan saya lakukan.
Hari pertama ini aslinya habis diperjalanan dari Jakarta ke Osaka doang.
Jadi jam 06:25 pagi pesawat AirAsia QZ8190 take off dari Bandara Soekarno Hatta ke LCCT Kuala Lumpur. Alhamdulillah 2jam penerbangan tersebut nyaman sekali. Ga ada gangguan seperti guncangan pesawat/turbulensi. Jam 9:30an waktu Malaysia kami mendarat di LCCT KL. Rencananya saya dan Rara akan maen seputaran KLIA (paling jauh ke Cyberjaya deh) bersama Syafiq, seorang rekan Mozillian dari Malaysia.
Menu sarapan di AirAsia *nyam*
Jadinya kami harus melalui antrian imigrasi yang panjangnya buset ga kira-kira deh. Jadi permasalahan adalah pesawat landing banyak, penumpang yang akan masuk ke Malaysia dan harus melalui imigrasi banyak banget, tapi petugas imigrasinya cuman ada 3. It’s like almost 500 peopls vs 3 officers. No WiFi for killing time(ada sih akses point WiFi, tapi buat apa kalo ga bisa digunakan :P). Mungkin setelah 1 jam baru ada petugas tambahan, dan total kami membutuhkan lebih dari 1.5jam untuk lolos proses imigrasi.
Wah bubar deh rencana gara-gara antrian imigrasi.
Kok bisa?
Yah berhitung saja.
Keluar bandara dah mo jam 12 siang (dan Syafiq dah nungguin kita lumayan lama gara-gara itu, deeply sorry Bro). Jam 3 sore kami dah harus terbang dari KL ke Osaka berarti jam 2 dah harus masuk ruang tunggu dan jam 1 paling ga kami sudah harus di LCCT lagi untuk lapor kembali ke maskapai walaupun webchecking sudah kami lakukan. Meh… gimana ceritanya mo klayapan ke Cyberjaya coba? Belum kalo nanti kena antrian imigrasi lagi, alamak…
Akhirnya kami diajak makan siang ke salah satu warung rekomendasi Bang Syafiq. Namanya Asam Pedas Kg. Jijan. Ga segitu jauh dari LCCT sih (kalo bawa mobil sendiri :p). Makan siang + diskusi soal Mozilla terutama perkembangannya di Malaysia. Nice topic, nice food (arrghh, nyesal ga pesan asam pedas ikan pari padahal sedap betul tu). Di kesempatan ini saya ngenalin soal Wikufest dan partnershipnya dengan Mozilla Indonesia selama 2 tahun terakhir ini.
ini nasi ayam pesanan saya, tapi kalo bisa ke sana lagi jelas akan nyikat Ikan Pari Asam Pedas nyadonat yang bikin galau….ok, ok ok selfie in Syafiq’s race car ^_^
Lunch finished, time for 6.5 hours long flight KUL-KIX. Pheww…
Sesuai kalkulasi, nyampe di Kansai International Airport (KIX) Osaka jam 22:30an (GMT+9) plus pindah wing, imigrasi dll kami akan resmi masuk Jepang sekitar jam 11 malam.
arrived at Osaka 🙂cukup modal kartu paspor BCA untuk narik dari ATM ini 🙂okaerinasai, danbo-kunah, saya ada foto-nya juga akhirnya 🙂
Berikutnya apa? Find a spot to sleep, dong 🙂
Jadi, KIX ini adalah salah satu bandara yang cukup nyaman kalo kita mo ngemper bobo di bandara demi menghemat budget penginapan hehehehehe. Lokasinya ada di lantai 2 terminal kedatangan. Banyak kursi-kursi panjang empuk tapi ya harus berebut dengan traveler lainnya (termasuk yang dari Jepang sendiri). Spot paling enak di pojokan antara McD dan Lawson. Selain tempatnya yang lebih hangat (btw, it was 1-2 degree celcius), depan pos polisi, dan kantor informasi di dekatnya menyediakan selimut yang bisa kita pinjam lho 🙂
Yah di postingan sebelumnya saya sudah nulis kenapa milih Kyoto sebagai tujuan wisata kali ini.
Berikut saya akan coba sharing persiapan yang saya lakukan untuk perjalanan tersebut.
1. Akomodasi
Jadi, untuk perjalanan 8 – 14 Maret 2014, tiketnya sudah saya beli 2 April 2013. Whattt?
Yup, setahun sebelumnya saya sudah punya tiketnya. Thanks to AirAsia, your tagline “now everyone can fly” is not just a tagline 🙂
Jadi rajin-rajinlah berburu tiket murah dari berbagai maskapai penerbangan yang ada. Bisa lewat notifikasi email, twitter, facebook, any channel now can be reached.
Sebagai gambaran, untuk tiket pesawat AirAsia Jakarta-Kyoto PP + Pajak + Asuransi + bagasi 20 & 30kg (yg ini kayanya too much) + Pick a Seat biayanya adalah 3.4jt. FYI, tiket pp ‘normal’ paling murah dengan Air Asia (tanpa bagasi) beberapa hari lalu saya cek sekitar 5juta sekian. Katakanlah 6 juta.
Untuk tempat nginap sih ga begitu pusing karena ada hostelworld.com, bookings.com dan banyak situs sejenis lainnya. Tinggal pilih lokasi, book tempat kamu nginap, sudah deh gitu saja. Mungkin ada situs yang mengenakan DP (down payment), tapi itupun cuman 10% dari total transaksi. Jadinya ya kamu harus punya kartu kredit untuk situs seperti ini.
LCCT Kuala LumpurKansai, here we come
Tempat nginap pilihan jatuh ke Hana Hostel. Selain banyak review bagus, tempatnya juga strategis.
Ah iya lupa bilang, situs semacam tripadvisory, lonely planet n sejenisnya itu membantu menambah bahan analisa kita juga lho 🙂
Yayyyy, hidup crowdsourcing. Sharing really is caring 🙂
Setelah akomodasi beres, saya punya waktu hampir satu tahun buat budgeting yang lain-lain (makan, souvenir, dll).
2. Visa
Ngurus Visa Jepang itu sangat mudah kok.
Memenuhi syarat-syaratnya yang mungkin tidak hehehehehehehe.
Coba baca tautan berikut ini untuk mengetahui syarat-syarat apa saja yang dibutuhkan untuk visa Jepang.
Garis besarnya sih
Paspor
Isi formulir yang bisa di download PDF nya, plus foto paling lama 6 bulan terakhir (bagusnya yang terbaru) ukuran 4,5 X 4,5 cm, latar belakang putih. Sebenarnya tempat-tempat foto besar seperti Fuji Image Plaza, Kodak n sejenisnya dah tau foto visa yang dimaksud seperti apa. Tapi banyak yang merekomendasikan fotonya ke Djakarta Photo saja yang di Jl. Sabang.
Fotokopi KTP (jangan dipotong sesuai ktp yah, biarin ajah di kertas A4 nya)
Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (saya ga pake ini, karena bukan mahasiswa lagi :P)
Bukti pemesanan tiket (tinggal print dari AirAsia)
Jadwal Perjalanan (ada formnya juga tinggal download dan isi)
Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon (kalo lebih dari 1 pemohon visanya, tapi saya ga pake ini)
Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan. Nah ini yang paling ribet, karena kamu harus ke bank untuk print transaksi 3 bulan terakhir. Kalo bank nya satu kota dengan domisili sih ga masalah. Kaya si Rara itu akun BCA-nya buka di Makassar, dia di Jakarta. Jadi kalo ingin cetak 3 bulan transaksi harus ke Makassar sana tempat di mana akunnya di daftarkan. Biyuh…
Nah di sini sekalian saya minta surat rekomendasi dari Bank untuk permohonan pembuatan Visa. Bank dah punya templatenya sih, tinggal dikasih tahu saja Visa untuk kedutaan mana.
Saya juga menyertakan surat keterangan kerja ama surat pengantar permohonan visa dari perusahaan tempat saya bekerja sebagai pelengkap.
Setelah itu dokumen disusun berdasarkan urutan, bawa ke kedutaan Jepang di Thamrin (jam 8-12). Petugas akan memeriksa ulang jika ada kekurangan. 3-4 hari kerja kemudian tinggal datang lagi ke kedutaan untuk ambil paspor (jam 13-15) dan bayar.
Kalo diterima hasil visanya akan seperti ini 😛
ooc x100s, sukaa
Kalo tidak diterima ya jangan kalap besoknya atau minggu berikutnya apply lagi. Sebaiknya sih tunggu 6 bulan lagi buat apply kembali.
3. Getting connected
Despite its image as a sleek, technologically advanced society, Japan really sucks when it comes to free wi-fi hotspots. Serious.
Okelah ada mulai ada upaya untuk menjadikan kota-kota besar di Jepang sebagai WiFi City seperti di Osaka ini, tapi hotspotnya juga (masih) terbatas. Saya sih ga terlalu mempermasalahkan, asal di penginapan ada. Cuman teman-teman seperjalanan sepertinya ga bisa idup kalo ga konek internet, so I have to find a way out 🙂 Menyewa WiFi Router.
Ini pengeluaran sunnah, kalo buat dipakai sendiri sama ajah dengan pemborosan tapi kalo dipake ramai-ramai jatuhnya jadi murah banget. Operator yang saya pilih adalah japan-wireless.com
 WiFi Router Portabel/ MiFi (Mobile WiFi) seperti di bawah ini mendukung jaringan LTE (wooo, imagine the speed) dan mampu melayani koneksi hingga 10 perangkat.
pocketWiFi package, ooc x100s, sukaa
Biasa sewa modem ini untuk 5 hari adalah JPY 5000 + JPY 500 untuk biaya kirim
Roaming data “unlimited” operator 3G GSM saya tarifnya adalah IDR 100k/hari atau IDR 300k/5 hari. Kalo untuk perorangan sih IDR 300k/5 hari ‘unlimited’ cukup menggiurkan. Tapi ini kan roaming, saya seram sendiri kalo nanti balik ke Indonesia kena “bill shock”. Jadi pilih aman saja. Matiin 3G data, cukup nyalakan voice + tethering konek ke router ini over WiFi dengan speed LTE. Bayar 1 buat rame-rame 🙂
Speed bikin ngiler, ga pernah ada masalah di spot-spot yang saya kunjungi. Batre bisa tahan sampai sore (idupin jam 8-9 pagi, colok powerbank jam 4 sore kalo konek terus tanpa dimatikan). Mantap kan? 🙂
Paket dari japan-wireless.com
termasuk kantong serupa untuk balikinnya
isi paketnya unit PocketWiFi, charger, USB kabel plus powerbank mini
PocketWiFi LTE
Gadget?
Ummm, standar sih bawaan saya. Macbook Air (transfer/backup foto) + iPad Mini (dipake kalo butuh layar gedean untuk peta/maen game/hp lowbatt), kamera (itupun yang mirrorless, DSLR tinggal di rumah). Dan sapa sangka hasil kamera LG G2 ini memuaskan, sementara iPhone5 saya masih di service center TAM yang udah 3 minggu tidak ada update kabarnya.