Nyanyian Kang Harry Roesli

SEORANG satpam baru saja jadi satpam, kebetulan orangnya disiplin dan taat perintah. Si satpam ini pekerja di sebuah toko swalayan dan diperintahkan oleh atasannya untuk menjaga pintu masuk ke toko swalayan. Perintah khusus dari atasannya ialah seluruh pengunjung harus menitipkan tasnya pada dia (si satpam) sebelum masuk ke toko swalayan, tanpa kecuali!!

Ketika seorang pengunjung laki-laki-tanpa membawa tas-ingin masuk ke toko swalayan tadi, kontan si satpam berteriak, “Bapak harus menitipkan tas dulu, baru boleh masuk ke dalam toko!”

Pengunjung tadi berdalih, “Lho, tetapi saya tidak membawa tas, jadi apa yang harus saya titipkan?!”

“Tidak peduli, pokoknya perintah atasan harus titipkan tas, baru masuk!”

“Tetapi, saya tidak bawa tas!”

Si satpam berpikir sejenak, lalu, “Kalau begitu Bapak pulang dulu ke rumah, lalu bawa tas, lalu ke sini lagi, lalu titipkan tas Bapak, baru saya izinkan Bapak masuk toko!”

CERITA di atas hampir mirip dengan cerita bapak polisi Banyumas yang katanya salah menafsirkan perintah. Lha kok bisa ya, seorang melati tiga salah menafsirkan perintah? Saya curiga bukannya sang melati tiga yang salah, tetapi jangan-jangan memang perintahnya yang salah. Atau mungkin perintah tadi benar, si melati tiga juga benar, yang salah ya saya ini, rakyat yang memang bodoh!

Bayangkan begitu bodohnya saya ini, sampai-sampai cukup dengan uang seratus ribu rupiah saja saya jual suara saya. Padahal kalau diingat, harga kambing saja dua juta rupiah, iya kan?

Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya merasa kasihan kepada seorang kakak dan adiknya yang sekarang sakit (sembari menghindari hukum) dan dirawat di Rumah Sakit Polri, gara- gara kebanyakan “makan” gula!

Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya percaya bahwa Margareth Thatcherm-mantan PM Inggris-itu kebanyakan minum air dari Buyat sehingga dia banyak mengandung merkuri dan bijih logam makanya dijuluki Wanita Besi!

Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya tidak lagi mempertanyakan kapan kasus Eddy Tanzil di-SP3- kan? Toh, Eddy Tanzilnya juga tidak ketemu-ketemu! Susah ya mencarinya? Lho, intel-intel yang banyak itu ke mana ya?

Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya kaget dengan ketegasan pemerintah yang mengeksekusi mati seorang bandar narkoba. Terlepas dari pro dan kontra hukuman mati, tetapi naluri kebodohan saya mengatakan, kayaknya memang perlu tegas seperti itu. Kenapa? Karena narkoba sudah merusak mental dan moral generasi muda. Nah, kalau yang merusak mental dan moral generasi tua, apa? Ya korupsi dong! Jadi, koruptor kapan di-“tegas”-kan eksekusinya? Seperti di China dan Korea koruptor dihukum mati, di sini kapan?

MEMANG kita selalu membanding-bandingkan negara kita dengan negara lain. Dan selalu kita merasa negara kita ini lebih jelek dari negara lain!

Misalnya, di China koruptor dihukum mati, di Indonesia koruptor itu hukumnya sudah “mati”! (Tuh, kita selalu memosisikan negara kita di posisi yang payah).

Singapura itu bersihnya lebih bersih dari kulitnya Shinta Bella! Jakarta? Wah, Jakarta itu kotor banget seperti kulitnya orang yang berpenyakit kulit akibat minum air di Buyat. (Nah kan, betul kan, selalu kita menganggap negara lain lebih bagus dari negara kita).

Di Eropa, orang menganggur disubsidi seribu euro! Di sini? Boro-boro yang menganggur, yang bekerja saja gajinya tidak sebesar itu! (Lagi-lagi kita selalu memojokkan kondisi di Indonesia, iya kan?).

Pemimpin di luar negeri kalau punya kesalahan pasti mundur dari jabatannya! Di sini? Mundur juga, tetapi yang mundur akhlaknya! (Tuh, kita selalu menganggap pemimpin kita itu lebih jelek kalau dibandingkan dengan pemimpin di negeri orang).

Polisi di Inggris benar-benar berwibawa dan tidak bisa disogok! Di sini? Polisi di sini juga tidak bisa disogok! Ah yang benar? Benar, tetapi polisi tidur dan polisi patung, iya kan? (Kita memang keterlaluan, selalu menjelek-jelekkan aparat, kenapa ya?).

Dan banyak lagi perbandingan-perbandingan lain yang membuat sepertinya hidup di Indonesia itu tidak ada enak-enaknya dan tidak ada untung-untungnya!

Padahal, harga CD, VCD, dan DVD di sini sepersepuluh dari harga di luar negeri! Untung kan itu?

Bahkan, untuk mendapatkan ijazah pun mudah sekali di sini, tidak seperti di luar negeri! Enak benar kan?

SIM? Wah tak perlu repot seperti mendapatkan rijbewijs di Belanda. Enak!

KTP? Sepele, jangan dibandingkan dengan ID Card di Malaysia, apalagi greencard di Amerika! Gampang dan menguntungkan.

Jadi politikus? Wah mudah, tidak perlu punya uang seperti di Amerika, cukup jago berjanji dan pandai berbohong! Murah kan? Untungkan?

Jadi pegawai negeri? Cukup masuk batalion 702. (Maksudnya masuk pukul 07.00 terus 0 alias tidak ada di kantor dan masuk lagi pukul 02.00 siang untuk absen!).

Jadi pengusaha? Ah, dekati saja penguasa! Beres! Enak!

Jadi kolumnis Kompas? Eh, saya yang bodoh saja bisa! Mudah kan?

Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.

Bukankah catatan tadi di atas adalah keuntungan bagi kita kalau hidup di Indonesia. Negara ini tidak benar, tetapi bagi orang “tidak benar” seperti saya, saya sudah benar hidup di negara yang tidak benar ini. Coba saya hidup di negara benar, pasti saya jadi tidak benar dan mungkin sudah dihukum mati!
Untung kan saya?

Untung? Untung? Untung? Gundulmu sing untung!

Oleh : Harry Roesli

This entry was posted in General by nuri. Bookmark the permalink.

About nuri

petting cats, writing codes and taking photos / bedroom dj / reading books and traveling / very happy finally visited Mecca and Kyoto :)