Kenapa Budapest

Photo by Ervin Lukacs on Unsplash

Saya baru 2x ke benua Eropa, semuanya banyak dihabiskan di Paris, Perancis (melipir dikit sih ke Frankfurt). Dan jika tidak ada halangan, tahun ini saya akan mengunjungi eropa kembali setelah satu dekade absen. Bisa ajah saya 😛

Tujuan saya kali ini adalah Budapest, Hungaria.

Terus terang, sebelumnya saya tidak begitu ada minat untuk mengunjungi Eropa Timur. Bahkan saat Rara memberitahu rencananya untuk mengikuti pelatihan di Urban Regeneration Institute di akhir 2024 lalu, saya tidak begitu antusias. Selain biayanya yang cukup mahal, saya ada keraguan dengan tingkat keamanan kota/negara di Eropa Timur. Dah keseringan ke Jepang nampaknya yang kita bisa merasa aman anywhere anytime selama di sana.

Tapi saat Rara sudah mulai DP biaya pelatihan, saya jadi berpikir ulang. Kebayang beberapa tahun lalu dia harus mengikuti pelatihan juga di Heidelberg, Jerman. Sebuah kota kecil yang harus ditempuh sekian jam naik kereta dari Frankfurt, harus seret-seret koper gede pula. Dan landscape Heidelberg sebenarnya kurang bersahabat untuk kondisi lutut bu dokter (padahal saya yang bantuin riset things to do di Heidelberg). Jadi kali ini saya ga tega membiarkan dia jalan sendiri ke Budapest.

Jadilah saya mulai berhitung jatah cuti yang ada serta probabilitas cuti hampir 2 minggu bakal diapprove atau malah direject Mas VP 😛 Seperti biasa, saya mulai bikin outline dan melakukan riset, Budapest itu seperti apa sih.

Continue reading “Kenapa Budapest”

[Travel] Assalamualaikum Beijing

Assalamualaikum Beijing 🙂

Bukan bukan, ini bukan judul film yang itu kok. Saya belum nonton filmnya apalagi baca bukunya.

Terakhir saya menginjakkan kaki di ibukota China ini sekitar tahun 2007-2008. Dan alhamdulillah, mengawali tahun 2015 ini saya berkesempatan berkunjung kembali ke sini. Well, bukan berkunjung sih tepatnya karena ini bagian dari urusan kantor bertemu dengan kolega dari China Unicom dan China Mobile.

Saya pasti mati kutu kalo ke China. Pertama saya buta aksara, pengetahuan mengenai bahasa Mandarin juga minus (selain angka, beberapa kalimat standar percakapan dan pesan makanan di restoran fasfood, i know nothing). Walaupun saya gemar banget mempelajari sejarah kuno China. Tapi ya butuh teman ngobrol bahasa Inggris jadinya. Paling ga, itu topik yang sangat nyambung buat memulai percakapan dan biasanya merambat kemana-mana 🙂

Continue reading “[Travel] Assalamualaikum Beijing”