Kemarin kebetulan berbicara dengan seorang kolega mengenai Liverpool yang akan bertanding dengan timnas kita minggu ini. Dan pembicaraanpun meluas dengan topik sepakbola secara umum. Mulai dari betapa menyedihkan kondisi liga dan pembinaan pemarin di negara kita ini sampai dengan rumor transfer liga-liga elit eropa.
Nah berikut ini adalah daftar transfer English Premier League musim 2013-2014 status per Juli 2013 yang berhasil saya susun.
Sebentar, kalau Samsung -> kamera … fine. Sebagai raksasa elektronik, selain bikin kulkas-ac-tv-stereo system, Samsung sudah lama bikin kamera poket. Jadi kalau mereka bikin mirrorless ILC disuntik Android kayanya ga heboh-heboh banget. Sony did that also.
Lha kalo Nikon? Gimana ceritanya?
Tidak bisa dipungkiri bahwa pasar kamere poket a.k.a point-shoot dah mulai menurun, or might be dying even for the mighty Nikon. Semuanya pada kegerus oleh tingkat pertumbahan camera-phone yang sangat-sangat dratis naiknya.
Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, Presdir Nikon Makoto Kimura menyampaikan
“Jumlah orang yang mengambil foto meningkat sangat tajam seiring pertumbuhan penggunaan smartphone yang tahu kemarin diperkirakan terjual 750 juta unit. Dan angka itu terus bertambah.”
Menurut Camera & Imaging Products Association di Tokyo, penjualan kamera poket secara global pada bulan Mei ini turun hingga 48% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara SLR 6%. Dan Nikon sendiri cukup merasakan akibatnya karena menurut proyeksi mereka, pasar kamera poket mereka akan mengalami penurunan sebanyak 12% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu lihat saja spesifikasi Nokia Lumia 1020. PureView 41 MP sensor dengan Optical Image Stabilization (OIS), lensa Zeiss lengkap dengan Xenon Flash bahkan LED untuk rekam video.
“Pertumbuhan mobile devices yang sangat cepat telah merubah lingkungan bisnis kami,” kata Kimura. “Langkah ke depan kami adalah untuk menemukan jawaban atas tantangan ini.”
Terkait dengan hal di atas Kimura menambahkan “Kami ingin menciptakan produk yang akan mengubah konsep kamera. Ini bisa menjadi produk non-camera-consumer.”. Kalimat yang cukup menggoda buat digosipin walau Kimura menyangkal bahwa Nikon sedang membuat sebuah smartphone.
Jadi, bakal seperti apa senjata rahasia dari Nikon ini?
Beneran ga Nikon bakal bikin smartphone? Semoga sih penampilannya ga bikin ilfil kaya Galaxy S4 Zoom 🙂
Nah kalo postingan sebelumnya saya nulis soal 2 API baru dari Dropbox, kali ini saya coba nulis tentang alternatif Dropbox. Namanya ownCloud.
Sama-sama memberikan fitur dasar yang sama seperti halnya Dropbox seperti file storage, sinkronisasi dan sharing. Bedanya, ownCloud ini adalah free software dengan basis PHP, SabreDAV dan dapat bekerja dengan berbagai macam database seperti SQLite, MariaDB, MySQL, Oracle Database, and PostgreSQL.
Fiturnya antara lain:
File storage
Cryptography
Synchronization of clients
Calendar
Task scheduler
Address book
Music streaming (via Ampache)
User and group administration (via OpenID atau LDAP)
Sharing of content across groups or public URLs
Online text editor with syntax highlighting and code folding
Melihat ke belakang sejenak, sejarah ownCloud ini diawali oleh seorang a KDE software developer bernama Frank Karlitschek. Dalam satu presentasinya dia menginginkan adanya solusi alternatif storage service dari yang ada saat itu. Solusi open source cloud storage yang bisa kita kontrol sendiri. Maka dia mulai proyek pengembangan ownCloud ini di January 2010.
So what’s wrong about it anyway?
Emang kenapa sih kalo kita pakai layanan dari Dropbox dan teman-temannya daripada repot-repot setup cloud storage sendiri?
Ummm, jadi gini
Menurut Symantec, lebih dari 75% bisnis telah menyimpan data-data sensitif perusahaan di layanan public clouds.
40% mengalami pemaparan informasi rahasia dengan kata lain datanya bocor ke luar.
40% bilang data yang disimpan di public cloud tadi hilang, jadi mereka harus restore lagi dari backup. Nah kalo ternyata maksud hati pake cloud awalnya malah buat jadi backup ya nangis tralala deh.
1 dari 5 pengguna yang disurvey bilang mereka pake layanan file sharing/storage ini untuk kerja, artinya dokumen-dokumen kerjaan disimpan di sana
Mayoritas pengguna Dropbox tahu bahwa pakai Dropbox itu melanggar aturan perusahaan, hence they did it anyway. Kenapa? Prasangka baiknya sih karena emang mereka butuh layanan ini untuk membantu kerjaan, sementara perusahaan belum bisa menyediakan.
Menurut Infosecisland.com angka kerugian rata-rata akibat kebocoran data perusahaan ini adalah $5.5 juta pada tahun 2011
Kita lihat ilustrasi dari ownCloud.com berikut ini:
The Dropbox way (image from owncloud.com)
Buat perusahaan, masalah akan timbul jika:
Karyawan sinkronisasi data-data sensitif perusahaan ke device pribadi mereka. Entah itu pc, laptop, tablet, handphone
Karyawan sharing data-data tersebut dengan orang lain walaupun itu rekan kerja apalagi rekanan dan entah siapa lagi
Data-data tadi disimpan di penyedia layanan yang ga jelas (ga punya reputasi atau malah ga dikenal)
Belum lagi kalau perusahaan harus comply dengan aturan-aturan negara terkait dengan kerasahasiaan data. Misalnya saja institusi perbankan/keungan.
Ada kompetitor di luar sana yang akan sangat senang mendapatkan data-data tadi berapapun harganya. tetottttt
Jadi sebenarnya kalau bukan data sensitif baik itu untuk keperluan pribadi apalagi sebuah instansi mestinya sih ga segitu masalah kita pake public storage. Nah buat pengguna rumahan maupun perusahaan, ownCloud ini dapat diinstall sendiri dalam sebuah private server tanpa ada biaya tambahan.
the ownCloud way (image from owncloud.com)
Untuk versi enterprise, ownCloud menawarkan berbagai fitur tambahan selain support. Misalnya saja adanya logging modul yang akan mencatat aktivitas-aktivitas yang terjadi terhadap file yang disimpan di ownCloud, siapa yang mengakses, kapan dan dari mana.
Dari sisi support beberapa perbedaan antara community edition dengan enterprise edition adalah sbb:
Sepertinya kalau kita ngomongin cloud storage, salah satu nama yang hampir pasti akan selalu kesebut adalah Dropbox. Nah baru-baru ini, Dropbox baru saja meluncurkan 2 API yang cukup powerdul yaitu Datastore API dan Drop-Ins API. 2 API ini makin menegaskan saja kalo Dropbox sekarang ga cuman bermain di segmen file storage biasa tapi menyentuh ke level aplikasi.
Nah yang pertama, Datastore API.
API ini dapat menyimpan data terstruktur apa saja atau metadata dari sebuah aplikasi. Nah, hal ini membuat para developer dapat melindungi data pelanggan mereka bahkan saat mereka melakukan perubahan data secara offline sekalipun. Ini berguna banget buat layanan-layanan yang butuh sinkronisasi kaya to-do list, addressbook, atau layanan lain yang datanya diakses lintas device, lintas platform online maupun offline. SDK nya sudah ada untuk iOS, Android dan JavaScript.
Kemudian Drop-Ins API yang terdiri dari 2 segmen yaitu Chooser dan Saver yang memudahkan pengguna untuk mengakses file dari Dropbox atau menyimpan file ke dalam dropbox dari aplikasi lain. Chooser saat ini tersedia untuk iOS dan Android sementara Saver saat ini untuk webapps saja.
Jadi, para developer sekarang tidak perlu ribet. Karena 2 API tadi adalah salah satu upaya Dropbox membantu pengembang membuat aplikasi cross platform untuk membuat aplikasi dengan dropbox sebagai backend. Ada yang sudah mulai nyoba-nyoba API nya?